Membagi Prioritas Antara Pekerjaan & Keluarga

pekerjaan dan keluarga

Bekerja bagi seorang pria merupakan sebuah kewajiban yang mau tidak mau harus ia lakukan, apalagi jika pria tersebut sudah menikah dan berumah tangga. Bekerja tidak selalu harus anda masuk di sebuah perusahaan dan menduduki sebuah jabatan. Bekerja bisa anda lakukan di mana saja dalam bentuk apa saja asalkan pekerjaan tersebut halal dan tidak melanggar syari’at.

Dengan bekerja seseorang akan mendapatkan hasil dari pekerjaannya dan dengannya seseorang bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Dan memang itulah kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang suami dan ayah untuk ia bekerja dan mencari nafkah sehingga ia memiliki kehormatan dan wibawa di mata keluarganya karena ia bisa mencukupi kebutuhan hidup baik sandang, pangan dan papan yang mau tidak mau kewajiban tersebut harus dijalankan sebagai bentuk kecintaan dia kepada keluarganya dan menjadikan mereka hidup layak di bawah tanggungan kita.

Terkadang seseorang walaupun sudah bekerja banting tulang, lembur setiap hari dan usaha-usaha lainnya yang ia lakukan untuk bisa mencapai satu tingkat penghasilan yang ia idamkan masih saja seseorang tersebut belum menemui keberhasilan seperti yang ia harapkan. Namun sering juga kita lihat sebagian orang yang hanya bekerja beberapa jam saja, namun dia bisa mendapatkan penghasilan yang besar sehingga ia bisa memiliki waktu yang banyak dengan keluarganya.

Memang banyak sekali tuntutan dan realita yang kita hadapi. Dan mungkin sering dari kita merasa takut tidak bisa berbuat banyak untuk menanggung beban hidup keluarganya sehingga dia berpikir keras dan bekerja dengan maksimal sehingga banyak sekali waktu yang ia curahkan untuk pekerjaan tersebut. Memang semangat kerja dibutuhkan untuk menghasilkan etos kerja yang bagus dan untuk pencapaian hasil yang maksimal tentunya. Namun seringnya kita jadi melalaikan hak-hak keluarga yang harus juga kita tunaikan berupa waktu dan kebersamaan kita bersama keluarga.

Sehingga banyak dari para suami yang sudah jarang sekali bercengkrama berdua untuk mencurahkan perasaan dan menceritakan isi hati dengan istrinya. Begitu juga dengan anak-anak yang sudah kehilangan figur orang tuanya karena sang ayah jarang sekali pulang ke rumah, dan walaupun pulang itu hanya ia lakukan untuk hanya sekedar tidur dan seolah-olah tak ingin diganggu oleh istri dan anak-anaknya.

Kondisi seperti ini sangat ironis, semua kegiatan kita memiliki prioritas dan porsi kepentingan yang berbeda-beda. Bekerja penting untuk kita bisa tetap survive dalam kehidupan ini, dan keluarga pun juga penting karena kita pun tak bisa membeli hati mereka hanya dengan uang dan materi semata. Mereka pun ingin kita duduk bersama di meja makan di saat makan malam, istri pun ingin ia nyaman dalam pelukan kita setelah penat seharian ia mengurus rumah dan anak-anak, dan tak lupa anak-anak pun ingin bermain walau hanya sekedar melepas canda tawa mereka dengan ayahnya dan ingin sekedar mendengarkan cerita pendek sebelum anak-anak kita beranjak tidur dan bermimpi indah.

Wahai para suami dan ayah, ayo kita tetap bekerja tanpa melupakan hak keluarga kita. Rasakanlah kehangatan dan keharmonisan dalam keluarga kita ketika kita sudah lelah dan penat dalam bekerja. Segera pulang dan rasakan kebahagiaan di rumah kita. Nikmati masakan istri kita, rengkuh canda tawa anak-anak kita dan jadikan rumah sebagai tempat pulang yang nyaman dari berbagai hiruk pikuk yang terjadi di luar sana.

Postingan ini sebagai pengingat penulis untuk bisa memposisikan diri antara pekerjaan dan keluarganya. ^^