Orang Tuaku Tak Sedekat Sahabatku

Sedari kecil bahkan semenjak dalam kandungan, seorang anak senantiasa membutuhkan kehadiran dan kedekatan dengan orang tuanya. Baik Ibu atau Ayah memiliki peran penting dalam setiap perkembangan anak. Tapi tidak setiap anak mendapatkan kasih sayang yang sama dari orang tuanya. Salah satu contohnya adalah orang tua yang selalu sibuk bekerja, Ayah dan Ibu yang sama-sama meniti karir dan seringkali meninggalkan anak tanpa perhatian dan kasih sayang yang cukup. Mungkin sudah banyak cerita di sekitar kita anak-anak broken home yang mereka kekurangan kasih sayang lalu melampiaskannya kepada berbagai tindak kejahatan yang tidak saja merugikan dirinya sendiri tapi juga orang lain.

Sebenarnya tidak ada yang salah ketika orang tua sama-sama bekerja, terutama Ibu yang juga memiliki kesempatan yang sama untuk meniti karir. Namun tidak semua Ibu bisa menjadi Super Mom. Yang tetap fokus mendidik dan membesarkan anak di sela-sela kesibukannya bekerja. Terkadang orang tua hanya ada ketika anak meminta uang jajan dan setelah itu Orang tua sibuk dengan pekerjaan dan kelelahannya.

ortuku sahabatku

Dilema memang, cerita seperti ini banyak sekali menjadi curahan hati anak-anak yang mereka menjadi korban egoisme dan obsesi berlebih dari orang tua yang selalu menomorsatukan dunia di atas segalanya. Berbeda halnya dengan kondisi orang tua yang memang kurang berada, Ayah dan Ibu yang memang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, anak-anaknya begitu penurut dan sangat memahami kondisi ini sehingga mereka pun sabar dan selalu menantikan Ayah dan Ibunya di rumah. Banyak juga cerita kesuksesan anak dari keluarga kurang berada yang akhirnya mampu mengangkat derajat dan perekonomian keluarganya.

Sebagai anak, Saya dulu merasakan kurangnya kasih sayang dari orang tua. Maklum, orang tua hanya lulusan SD dan saya sangat mewajari hal itu. Ayah yang selalu pergi merantau di saat Saya membutuhkan figur Ayah di masa kecil. Ditambah Ibu yang pun harus rela membanting tulang demi membantu sang suami. Ketika beranjak besar dan saya mulai terpapar dengan pergaulan remaja yang kurang begitu baik, Saya pun akhirnya mulai mencoba berbagai hal..

Saya akhirnya memendam keresahan dalam diam dan mulai menutup diri dari apapun.. termasuk orang tua. Mereka hanyalah tahu bahwa Saya anak soleh yang berbakti dan tidak pernah berbuat yang aneh-aneh. Saya mulai tak nyaman dengan semua itu, Saya seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda. Di depan orang tua Saya menjadi anak yang penurut dan berbakti, namun di belakang mereka saya selalu kalah dan terkapar dengan berbagai kenakalan remaja yang mungkin orang tua tidak sadari.

Waktu itu Saya tidak pernah curhat dan begitu dekat dengan orang tua, bahkan ketika Saya baligh dan merasakan perbedaan dan perubahan di masa-masa remaja. Saya terpapar banyak hal yang kurang baik dan orang tua tidak pernah tanggap dan merespon hal itu. Mereka selalu menyamakan masa remaja mereka dulu dengan anaknya yang harus berjuang dengan banyak hal mulai dari berkembangnya teknologi sampai ideologi sesat yang mungkin tidak pernah mereka jumpai pada saat dulu.

Saya tidak bermaksud menyalahkan orang tua, karena ketidaktahuan mereka. Tapi selayaknyalah orang tua sebegitu dekatnya dan selalu hadir di setiap sisi kehidupan anak-anaknya. Apakah orang tua tahu ketika anaknya mulai belajar merokok dari Ayahnya sendiri? Atau suka terhadap lawan jenisnya di usia kelas 5 SD? Apakah orang tua tahu juga ketika anak lelakinya bingung mendapati pagi harinya dengan mimpi basah? Apakah orang tua tahu kenapa anak suka musik yang keras dan menjadi sedikit membangkang? Kenapa yang selalu disalahkan anak-anak yang karena kelalaian orang tua mereka menjadi anak-anak yang lepas kontrol? Kenapa yang dikecam justru anak-anak hanya karena mereka tidak tahu dan kebingungan menghadapi berbagai hal dalam dunia remaja mereka?

Kini setelah Saya menjadi seorang Ayah, Saya menyadari pentingnya kedekatan dengan anak. Karena anak lebih membutuhkan orang tua dari apapun. Karena anak tidak akan pernah bisa lepas dari orang tuanya bahkan sampai dia menikah dan berkeluarga. Cukup sudah hanya Saya saja yang merasakannya dulu, namun kini anak-anak Saya harus selalu dekat dan melebihi dekatnya seorang Sahabat. Anakku.. Kau yang paling berharga dan engkaulah segalanya.