Inilah Cara Ayah Mengisi Waktu Akhir Pekan Bersama Keluarga

Hai, teman papapz semuanya.. Semoga kalian tetap sehat dan semangat ya.

Sudah ketemu akhir pekan lagi nih! Dan, kini tiba waktunya kita untuk liburan. Apa rencana para ayah sekalian? Jalan-jalan, jalanin hobi, atau mager di rumah aja?

Wah, jangan sampai akhir pekan kita berlalu begitu saja yah! Memang sih, kita suka merasa cape dan lelah dengan berbagai aktivitas harian. Ada ayah yang bekerja di kantor, ayah yang bekerja di lapangan, ayah yang menjalankan bisnis atau ayah yang di rumah aja. Eh kan ada yang lagi WFH (work from home) juga kan yaa hehe. Tapi, jangan sampai akhir pekan malah jadi membosankan bagi keluarga kita. Karena Ayah suka cuek sama mereka di akhir pekan.

Anak dan istri kita, walau bagaimanapun tetaplah menjadi prioritas kita lho.. tidak hanya dalam urusan nafkah lahir nya. Tapi juga nafkah batinnya lho! Eh btw, nafkah batin kan bukan hanya hubungan pasutri ya hehe. Tapi juga berbagai macam sarana untuk memberi mereka kebahagiaan. Nah, perasaan bahagia kan merupakan salah satu pemenuhan kepuasan batin juga kan?

Sebenarnya, Ayah tidak perlu pusing deh dengan datangnya akhir pekan. Harusnya Ayah seneng lho karena kita bisa banyak berinteraksi dengan anak dan istri kita. Apalagi di zaman pandemi sekarang kan ya? yang kita dihimbau untuk banyak di rumah daripada keluyuran gak karuan hehe.

Ketika datang akhir pekan, Ayah bisa ajak deh kumpulin tuh anggota keluarga. Tanya mereka satu satu kira-kira akhir pekan ini mau ngapain aja yaa? Barangkali bingung kalau nanya mau kemana? khawatir jawab mintanya ke bali! hihi.. kan kejauhan ya?

liburan-bersama-keluarga

Nah.. setelah musyawarah. Tentuin deh sama Ayah kita mau ngapain aja akhir pekan ini! Apakah mau keluar atau tetap di rumah aja? Jika mau keluar, tentukan dong mau kemana.. dan ketika akan di rumah aja, harus ditentukan juga di rumah ngapain aja? Jangan bikin keluarga kita juga jadi ikutan mager ya hehe.

Sebenarnya, jika kita bisa tetap menjaga protokol kesehatan kita tetep bisa sih keluar rumah asal tetap aman aja. Mungkin kita bisa rencanakan pergi kerumah kakek dan nenek? Atau ke tempat wisata yang jarang pengunjungnya. Mungkin bingung juga ya? Ya.. kita searching dulu deh gak usah yang jauh-jauh.. yang deket-deket aja. Misal jarak tempuhnya cuma 1 jam perjalanan naik mobil pribadi. Nah gak kejauhan dan gak bikin bete juga kan ya? Usahakan aja jalannya ke tempat wisata di alam terbuka, misal ke danau, bukit, atau spot spot yang memanjakan mata kita. Soalnya kalau kaya ke wahana wahana gitu kayanya gak luas juga ya. Jadi sebisa mungkin kita masih bisa banyak menjaga jarak dengan yang lainnya.

Nah, jika sudah ketemu tujuannya. Siapkan deh segala sesuatunya, dan lets goo.. jangan kebanyakan bengong juga ya hihi. Enjoy dan nikmati akhir pekan ayah dengan keluarga.

Siiip..

Lalu kalau pengennya di rumah aja gimana dong pap? Hmm gampang juga sih.. lebih gampang malah karena gak akan ngeluarin budget yang gede untuk tetap asik di dalam rumah. Mungkin kita bisa rencanakan pesta kecil di rumah, misal pesta barbeque.. atau semisal yang lainnya. Sambil bikin games-games seru sama anak-anak. Jadi mereka juga gak bete. Yang penting stock konsumsi melimpah dong yaa haha so usahakan dulu belanja berbagai jenis makanan dan minuman agar kita tetap asik di dalam rumah. Karena menurut papap itu deh yang paling penting wkwkw.

Nah, selain ngadain pesta kecil seru bersama keluarga. Kita juga bisa mengisi akhir pekan untuk menjalankan hobi bareng bersama keluarga. Misalnya apa ya? mendekor ulang rumah? atau berkebun dan yang lainnya. Nah, intinya tetap usahakan ada kegiatan seru yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Sehingga mereka pun seneng dan bahagia karena bisa menikmati akhir pekan bersama Ayah dengan asik dan fun.

Nah Yah.. Gimana? Simpel kan sebenarnya dan gampang banget untuk mengisi akhir pekan seru bersama keluarga? Jangan lupa dicoba yaa..

Salam hangat dari papapz

kredit gambar: https://www.finansialku.com/wp-content/uploads/2013/09/beach-silhouette.jpeg

Ayah dan Menahan diri untuk tidak emosi saat berpuasa

ayah jangan marah

Aku nikah akhir tahun 2010, Anak pertamaku lahir Februari 2012.. Jadi ada rentang waktu sekitar 14 bulan statusku baru jadi suami.. setelah anak pertamaku lahir, aku nambah status jadi suami bagi istriku, dan ayah bagi anakku. Excited banget deh pokoknya pas punya anak pertama. Mungkin kaya anak kecil dapat mainan baru ya hehe. Tapi berselang setiap dua tahun, aku mempunyai anak lagi.. hingga sekarang di tahun 2019 anakku sudah 4. ūüėÄ

Lalu apa bedanya dan apa yang mau diceritakan? Kali ini aku akan cerita tentang menjalani puasa sebagai seorang Ayah. Anak pertamaku sekarang udah kelas 1 SD dan usianya sudah 7 tahun lebih. Seperti aku dulu yang sudah mulai diajari untuk melaksanakan ibadah, maka di usianya yang sudah 7 tahun itu, aku juga sudah mulai rutin mengajak anakku untuk sholat dan tentunya di bulan ramadhan ini aku ajak pula untuk berpuasa.

Sebelum masuk bulan Ramadhan, anakku sangat excited mendengar kata puasa, apalagi denger nanti bisa dapat hadiah. Tapi setelah masuk Ramadhan dan puasa dimulai, kayanya anakku semangatnya menurun apalagi dtambah anak-anakku bergantian sakit. Mulai dari yang bayi, sampai kakak-kakaknya. Otomatis bulan puasa kali aku gak karuan juga hehe qodarullah.

Membiasakan anak untuk ibadah itu memang gampang-gampang susah. Tapi alhamdulillahnya, terbantu juga dari motivasi di sekolah karena anak sulungku sekolah di SDIT yang penekanan terhadap pengamalan ajaran Islamnya lebih besar dibanding di sekolah negeri. Ya.. namanya anak-anak ya, apalagi adik-adiknya masih belum puasa.. jadi dia merasa gak ada temannya di rumah. Mungkin dia ngerasa iri.. dia lagi haus, eh adik-adiknya asik minum. Pas dia lapar, eh adiknya makan roti wkwk. Belum jajan nya masih jalan juga.. otomatis deh tambah gak karuan. Yang ada gontok-gontokkan sama si sulung, antara mempertahankan agar si sulung tetap konsisten atau malah akhirnya nyerah dan membiarkan si sulung buka puasa sebelum waktunya.

Memang sih ya, anak-anak yang belum baligh itu kan belum wajib puasa. Tapi tentunya pembiasaan ibadah sejak dini itu sangat bagus untuk dilakukan oleh setiap orang tua agar si anak tidak kaget ketika nanti dewasa diwajibkan kepadanya segala macam ibadah. Mulai dari sholat, puasa dan lain-lainnya. Lalu gimana nih gaees.. ketika dalam kondisi seperti ini? Apakah kita akan mengedepankan rasa kasian pada anak ketika anak-anak merengek haus dan lapar sebelum waktunya berbuka. Atau tetap konsisten mengajak mereka untuk menyelesaikan puasanya.

Bagi Ayah yang baru memiliki anak 1 atau 2 mungkin bisa ya. Tapi bagiku itu sungguh sangat berat. Karena konsentrasiku buyar, antara membimbing si sulung untuk konsisten puasa sama ngasuh adik-adiknya juga. Alhasil seringkali aku emosi tak karuan wkwk. Ah aku anggap saja ini merupakan bagian cerita dalam hidupku. Aku memang sedang belajar untuk sabar dan tidak emosian, terutama ketika berpuasa. Tapi terkadang ada aja yang bikin aku naik darah dan duaar.. omelanku keluar sambil tak pelototin anak-anakku yang gak nurut satu persatu. Haha.. lumrah gak sih semua itu terjadi? Kayanyanya aku gak bisa deh sesempurna di artikel-artikel tentang parenting itu. Aku juga tahu si tentang teori jangan marah pada anak, jangan melampiaskan kekesalan pada anak, jangan teriak pada anak ketika marah, jangan melakukan kekerasan verbal dan fisik pada anak. Tapii.. apakah semua orangtua bisa ya dalam situasi-situasi tertentu untuk memenej hati dan pikirannya agar seperti orang tua yang lembuuut..dan tidak ada nada tinggi ketika melihat anaknya rewel, tantrum, nangis, berantem, bikin ulah, dan sikap lainnya yang itu bikin tensi kita naik hehe.

ayah jangan marah

Aku sih terima aja kalau misalnya ada yang komen dan nyinyir. Koq bisa yaa teriak-teriak ke anak, atau ngomel-ngomel ke anak sampai suaranya keluar rumah itu kedengeran. Gak aku aja sih tapi kadang juga istriku xixi. Tapi sungguh, aku dan istriku tuh bukan tipe orangtua jahat yang kaya di berita-berita kriminal. Kita yaa.. kalau marah ke anak ya udah marah pas kesel aja. Kalau misal habis ngomel, ya udah kita baik lagi. Anak-anak habis itu angger minta apa-apa pasti sama kita lagi. Da kita ortunya ya? Masa kalau habis dimarahain terus anak kabur gitu atau nginep di rumah tetangga? haha.. korban nonton sinetron alay banget sih kaya gitu? Lagian.. tetangga juga pada ga mau pasti nampung anak-anakku yang kaya gitu xixi.

Nah di saat momen puasa ini, sebenarnya aku juga pengen nahan dan sabar untuk tidak emosi. Mudah-mudahan aku bisa jadi ayah yang soleh yaa.. yang kata-katanya selalu bijak, tutur katanya santun, tatapan matanya menyejukkan hati dan sangat sangat sabar serta penyayang, aamiin. ekspektasi nih.. mudah-mudahan anak-anakku juga mendukung aku untuk seperti itu. Jadi awas aja kalau kalian macam-macam hahaha.

¬†sumber gambar:¬†https://asset.kompas.com/crop/0x560:1000×1226/750×500/data/photo/2017/10/04/2141207776.jpg

Ayah dan Mengajari Si Kecil Berpuasa

mengajari anak berpuasa

Inget ga yah, waktu kita kecil dulu. Waktu seusia anak-anak kita sekarang.. mungkin usia 5 tahun ke atas. Sebagai seorang muslim tentunya kita ingin anak-anak kita juga rajin beribadah dan melaksanakan berbagai macam kewajiban kita sebagai seorang muslim. Salah satunya adalah puasa.

Puasa yang wajib, dilakasanakan setiap bulan Ramadhan dan itu hanya satu tahun sekali saja. Banyak orang tua yang ragu ketika ingin melatih anak-anak untuk belajar berpuasa. Memang tidak mudah, selain anak kecil memang belum diwajibkan berpuasa, tapi membiasakan ibadah sejak dini itu merupakan satu proses yang sangat positif. Ketika dewasa nanti insya allah anak-anak tidak akan merasa berat dan kesulitan lagi ketika beribadah.

Ayah dan ibu bisa saling bersinergi untuk membantu anak-anak dalam belajar berpuasa. Untuk usia anak-anak 5 tahun, atau di usia TK tentunya bisa dengan puasa setengah hari dulu, biasanya sampai adzan dzuhur. Lalu setelah berbuka disambung lagi untuk bisa melanjutkan puasanya hingga maghrib nanti. Ibu yang tidak bekerja bisa memantau secara penuh bagaimana anaka-anak belajar puasa. Ayah juga bisa memberikan support kepada anak-anak diwaktu sahur dan ketika akan berangkat kerja.

Apa saja sih, hal yang harus diperhatikan ketika mengajari si kecil berpuasa? Yuk simak beberapa hal berikut ini:

  1. Niatkan untuk beribadah. Ya mengajari si kecil berpuasa harus kita niatkan untuk ibadah. Ketika anak-anak menjadi soleh/solehah tentunya anak-anak akan menjadi investasi yang sangat berharga di akhirat nanti.
  2. Tidak boleh memaksa si kecil. Anak-anak yang belum baligh memang belum wajib untuk berpuasa. Tapi sifatnya hanya sebagai pembelajaran saja. Nah, tentunya kita tidak bisa memaksa si kecil untuk sama seperti orang dewasa. Kalau misal mereka sudah mulai tidak kuat, tidak mengapa berbuka. Tapi tentunya harus terus diedukasi jangan sampai mereka berbohong dan mencari alasan untuk berbuka sebelum waktunya.
  3. Mengalihkan perhatian si kecil. Ya anak-anak kecil yang aktif, tentunya memerlukan asupan makanan yang cukup. Nah, mungkin saat berpuasa, kurangi aktivitas di luar yang bisa membuat mereka haus dan lapar. Alihkan perhatian si kecil dengan bermain di dalam rumah atau dengan kegiatan lain yang bisa mengalihkan perhatian mereka dari makanan dan jajanan.
  4. Beri asupan nutrisi yang cukup saat sahur. Si kecil biasanya masih suka alot jika diminta bangun pagi untuk sahur. Jika si kecil agak susah untuk makan bersama. Bisa saja menemani mereka makan sahur di kamarnya. Bahkan jika harus disuapin ya tidak mengapa. Karena makan sahur itu sangat penting agar si kecil kuat berpuasa, baik yang masih puasa setengah hari ataupun yang sehari jika anak sudah menginjak usia SD.
  5. Beri hadiah. Anak-anak suka dengan pemberian. Tentunya jika si kecil pintar belajar puasanya. Ayah dan ibu bisa memberikannya hadiah kecil agar mereka semangat dalam berpuasa.

Demikianlah beberapa hal yang bisa diperhatikan oleh setiap orang tua ketika mengajari si kecil puasa. Semoga bermanfaat ya ūüôā

sumber gambar: http://ramadan.rakyatku.com/thumbs/img_660_442_cara-mudah_1527089939uasa.jpg

Menjadi Ayah yang tetap aktif di hari libur

aktivitas ayah

Bagi sebagian orang, akhir pekan menjadi sebuah waktu yang dinanti. Aku dulu pas kerja di Jakarta pernah kerja dari Senin sampai Jum’at saja selanjutnya Sabtu dan Minggu bisa bebas dan libur kemana aja. Maklum, waktu itu kan merantau di Jakarta dan masih jomblo yang menyedihkan pula. Jadi aku seringkali memanfaatkan waktu untuk banyak hadir di kajian-kajian Islam dan silaturahim ke saudara-saudara yang ada di Bogor.

Tapi sekarang aku kerja di perusahaan radio yang gak ada liburnya bro! Ya maksudnya kalau kegiatan siaran yang gak pernah libur, tapi kalau libur kerja ya ada lah seminggu sekali setiap hari minggu doang. Selain itu tidak ada tanggal merah dalam kamus pekerjaanku. Semuanya sama tetap sama-sama berwarna hitam dan kita tetap masuk kerja hehe.

Hari minggu dalam hidupku seperti tidak ada bedanya dengan hari-hari biasanya. Yang bedain mungkin aku gak akan sengajain datang ke kantor. Tapi untuk urusan pekerjaan di rumah mah pasti sama aja bahkan ada tambahan pekerjaan ekstra.

Menjadi Ayah yang tetap aktif meski di hari libur memang gampang. Dan itu kembali ke niat dan motivasi masing-masing dari kita. Mungkin bagi kalian yang udah nikah tapi masih belum punya anak, hari libur bisa jadi ajang pacaran.. jalan-jalan, shoping, kuliner. Asli aku jarang banget nikmatin itu bahkan ketika aku dulu baru menikah dan belum punya anak sekalipun haha.

Jika kalian mau santai-santai saja bisa, mau tiduran seharian juga bisa, mau jalan-jalan juga bisa, tapi itu semua pasti akan buang waktu dan buang duit aja. Sementara aku duitnya udah minim, dan aku pasti akan diomeli istri kalau aku cuma santai-santai aja di rumah haha.

Jadilah hari minggu aku tetap aktif. Aku masih harus bangun minimal pas adzan shubuh setiap harinya. Dan itu menurutku udah kesiangan. Idealnya bangun itu jam 3 pagi. Baru deh aku bisa manfaatin waktu buat nulis, atau updet bisnis sampinganku di online. Kalau aku bangunnya pas adzan subuh, pasti habis itu waktuku habis untuk siapin segala sesuatunya. Belum lagi kalau pas bagian aku siaran pagi. Pasti deh padet banget.

aktivitas ayah

Setelah bangun pagi. Aku harus beresin rumah. Dan itu rutin aku lakukan setiap hari. Aku harus beresin semua yang berantakan. Sampah-sampah, mainan anak-anak, baju kotor dll. Habis itu nyapu dan ngepel lantai, beresin dapur dan cuci piring, cuci dan jemur baju, beresin halaman, rebus air untuk di termos dan mandi anak-anak, siapin baju seragam dan buku pelajaran sekolah anak-anak. Atau bahkan aku harus juga belanja sayur di depan. Habis itu biasanya istri tugasnya masak. Sambil nemanin istriku masak aku masih tetap menyisir bersih apa saja yang masih terlihat kotor dan kurang rapi. Setelah jam 6 aku mulai bangunin anak satu persatu, anak ke satu di SD, anak kedua di TK, anak ke tiga di PlayGroup, kalau udah bangun bahkan aku harus mandiin baby ku yang masih 3 bulan. Haha. Habis mandiin, aku pakein bajunya anak-anak dan memastikan mereka rapi dan wangi. Habis itu aku suapin anak-anak yang mau sekolah itu sampe mereka siap untuk aku antarkan ke sekolah. Habis itu istriku juga berangkat ngajar ke sekolah, tinggal anak bayiku yang di rumah sama mba pengasuhnya.

Weleh, itu seabreg kegiatan pagiku. Dan itu tidak berubah walau di hari libur. Bedanya Sabtu Minggu, anak-anak tidak pergi sekolah saja dan malah tambah repot menurutku karena mereka menumpahkan kewajiban pengasuhan kepadaku hehe.

Sebenarnya aku tidak mau mengeluh dengan banyaknya kegiatanku bahkan ketika seharusnya aku libur dan istirahat. Mungkin pas aku ngedrop banget, aku aga malas-malasan mengerjakannya. Walau begitu, aku tidak bisa meninggalkannya sama sekali. Kalau aku udah lepas tangan begitu saja, maka yang ada di rumah pasti tidak akan terkondisikan. Anak-anak akan terlantar, dan rumah pastinya akan seperti kapal titanic yang nubruk karang haha.

Bahkan selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bantu ngurus anak-anak, aku pun harus juga mengontrol toko yang baru saja buka. Sebenarnya ini bisnis baru istriku yang ekspansi dari rumah ke pusat perbelanjaan di kota. Kemarin-kemarin kita hanya main di online tapi setelah itu, kita akhirnya ekspansi offline dengan sewa toko dengan menggaji karyawan.

Kemarin istriku juga sempat ikutan event gathering salah satu produsen baju muslimah di dekat rumah. Sambil bagi-bagi voucher diskon sepertinya dia kelihatan senang. Secara dia jarang gaul, tapi aslinya pengen eksis cuma mungkin gak ada waktu aja dan keder sama anak yang masih bayi juga.

Setelah mengkondisikan anak-anak untuk tidur siang dan lumayan aku pun sempat memejamkan mata barang sejam untuk istirahat. Sorenya kita jalan ke toko yang jual alat-alat display jualan lalu pergi ngecek jualan di toko yang kita sewa. Lalu setelah maghrib akhirnya kita pulang dan masih ada beberapa aktivitas lain yang dikerjakan sampe semuanya kelelahan dan tertidur.

Haha. Sebenarnya aku capek juga kalau harus nulisan semua kegiatanku bak catatan diary. Karena semuanya udah kaya rutinitas yang mau gak mau harus aku lakukan. Yah mudah-mudahan satu saat nanti ketika 4 anakku sudah besar-besar, aku bisa sedikit santai. Mungkin aku bisa mendelegasikan dan membagi pekerjaanku pada anak-anak hehe. Semoga yaa.. semoga anak yang ke 5 dan seterusnya tidak segera lahir hehe.

Semangat terus untuk para Ayah sepertiku ^^

Membenci Untuk Mencinta

Dunia rumah tangga memang sebuah dimensi lain yang harus disinggahi oleh setiap manusia. Terutama bagi seorang laki-laki sepertiku. Selama lebih dari 8 tahun ini, aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda dibanding ketika aku menjadi seorang bujangan dulu. Entahlah, memaknai kata bujangan pada saat dulu ketika aku memang benar bujangan koq tidak kaya lagu bang rhoma ya! Bujangan, jomblo, single atau apalah namanya seperti sebuah konotasi yang negatif yang harus aku enyahkan identitas itu sebelum aku menyentuh usia 25. Padahal waktu itu aku belum matang, kalau dikatakan mapan..mungkin kelamaan. Tapi makna ‘matang’ bagi seorang laki-laki sepertinya sudah mencukupi untuk seseorang bisa masuk ke jenjang pernikahan. Matang disini ya bisa disamakan ketika kita melihat buah, ketika buah sudah matang maka dia sudah siap dijual dan siap untuk dikonsumsi. Orang lain juga senang, penjual dan pembeli senang. Duh, ngomong apalagi ini?

Waktu itu.. aku sadari, aku masih labil. Mungkin definisi labil tidak seperti anak jaman sekarang yang alay-alay gitu ya. Tapi waktu itu aku masih sangat sempit dalam memaknai apa itu hakikat pernikahan dan berumahtangga. Kayanya waktu itu aku terlalu menghayal dengan level tertinggi. Sehingga begitu menggebunya aku, melesat bagaikan roket sementara bahan bakarku hampir menunjukkan angka nol!

Aku koq seperti baru nyadar sekarang. Bahwa kalau mau perang, harus bawa amunisi banyak. Kalau mau travelling harus bawa bekal yang banyak. Kalau mau mudik harus isi tangki BBM full. Kalau mau belanja ya harus bawa uang hehe. Ya ujung-ujungnya aku akan berkata kalau mau menikah ya harus siap segalanya. Waktu itu aku belum siap.. tapi waktu itu tidak akan kembali lagi dan aku tidak akan membuat waktu dulu menjadi lebih baik lagi.

Aku sebenarnya kasihan sama istriku. Dia berpeluh lelah, dan mungkin selama lebih dari 8 tahun ini aku belum bisa memberikan dia sedikit kebahagiaan. Aku hanya membuatnya sedih dan mungkin lelah dalam diamnya. Aku sadar aku bukan tipe suami idamannya. Walau aku tahu dia masih menyimpan harap aku bisa jauh lebih baik lagi.

43302_membenci-diri-sendiri

Aku tidak meratap dalam tulisan ini. Tapi aku kian hari makin tak kuasa membendung lelah dan memfokuskan pikiranku untuk menulis banyak hal. Ada banyak rekaman jejak kehidupan yang sangat sayang untuk dilupakan. Tapi seringnya menguap begitu saja seiring lelah dan kantukku saat aku menemani anak-anakku tidur. Aku bawa laptop kerjaku setiap hari ke rumah, namun seringnya pikiranku buntu dan entah asaku hilang kemana.

Aku seperti kehilangan arah kehidupanku. Memikirkan ketidakpastian. Sementara anak-anakku kian hari kian besar. Mereka semakin dewasa dan aku malu jika mereka menyadari aku bukanlah seorang Ayah yang hebat. Aku hanya bisa menemani mereka. Tapi aku belum bisa memberikan mereka yang terbaik. Kadang aku sibuk sendiri, dan aku juga entah tenggelam dalam kesibukkan yang kelam. Dan aku seringkali membuang banyak kesempatan untuk aku bisa kaya, bisa pintar, bisa lebih soleh lagi.

O yah, aku tidak akan berpura-pura lagi. Aku harus menjadi diriku apa adanya. Aku lelah menjadi orang lain. Dan aku harus membuka mata dan mennyadari posisiku saat ini. Sepertinya tadi aku membuat judul membenci untuk mencinta. Tadinya aku mau cerita tentang betapa istriku membenci aku di satu sisi tapi dalam sisi lain dia begitu memupuk cinta yang tak biasa. Tapi sebenarnya aku juga seringkali membenci diriku sendiri kenapa aku selalu berada dalam posisi yang tidak tepat. Dan itu menyulitkanku. Aku seperti terkunkung dalam sebuah penjara yang sepi yang sebenarnya aku berada dalam posisi yang bebas dan aku membawa kunci penjaraku sendiri. Aku bebas keluar masuk tapi entahlah kenapa aku masih nyaman dalam penjara ini dan masih rindu ingin kembali menikmati kesendirian dalam penjara hati dan jiwaku.

Ada banyak kebencian yang dipupuk menjadi cinta. Dan cinta itu tidak seindah yang dibayangkan. Kadang cinta lebih membutuhkan banyak pengorbanan dibandingkan asyik dalam kenyamanan dan ketentraman. Kadang cinta begitu perih sehingga ia selalu menggenggam masa lalu yang ia bingkai dalam relung sanubari terdalam, dalam memori jiwa yang tak pernah bisa dihapus oleh waktu.

gambar: https://intisari.grid.id/read/0393311/tragis-ternyata-masih-banyak-orang-yang-membenci-dirinya-sendiri-ini-sebabnya?page=all

Ketika Ekspektasi Menikah Tak Sesuai Dengan Realita

Saat ini aku seringkali mengeluh, kenapa ya aku sekarang tak seaktif dulu? Memang aku sepertinya jadi kaya gak move on ya dari masa lalu.. masa saat aku masih jadi single fighter alias jomblo! Lho, orang mah pengen gak jomblo ya dan menganggap jomblo itu sebuah penderitaan. Tapi memang sih ketika jomblo itu ada asyiknya juga! Asyiknya ya.. kita bisa hidup seenak sendiri tanpa ada banyak tuntutan seperti ketika kita sudah menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga.

Mungkin kita akan sedikit flashback. Dimana aku juga mungkin termasuk salah seorang yang terlalu terjebak dalam keindahan dan ekspektasi tinggi tentang menikah. Sepertinya aku terlalu menelan mentah-mentah bahwa menikah itu jauh lebih enak dibandingkan menjomblo. Ya waktu itu aku memang sudah mengetahui bahaya pacaran. Tapi sebenarnya tanpa membuka aib, betapa aku juga dulu terjebak dalam satu status yang tidak lazim. Yang aku juga gak tahu itu masuk dalam kategori hubungan yang seperti apa? Skip lah ya di bagian ini.

Membayangkan enaknya menikah memang tidak lepas dari input yang kita dapat. Waktu itu, aku terlalu banyak memasukkan keyword “indahnya menikah” di google, kajian-kajian islam, buku-buku islam dan tulisan-tulisan. Jadi penuhlah otakku dengan kalimat “kapan aku nikah?.. kapan.. kapan..” Sehingga dari mulai tahun 2007an sampai 2009 aku galau.. aku mulai memborbardir update status di facebook, kolom komentar dan postingan blog dengan tema “menikah adalah segalanya”.

indahnya-menikah-tanpa-pacaran

Kalau inget itu aku jadi malu sendiri. Mungkin aku yang salah hanya mengedepankan ego semata dan tanpa estimasi yang matang. Mungkin teman-temanku ketika mau menikah sudah kaya mau perang. Mereka siapkan bekal yang cukup, baju zirah yang kuat, ditambah upgrade ilmu dan skill perang yang mantap. Kalau aku.. modal nekad aja huhu. Dan yah, kini aku harus mencari-cari dimana pedang.. dimana perisai.. dimana baju zirah.. bahkan mungkin kini sudah kehabisan bekal.. padahal perang masih lamaa… masih berapa episode lagi kali? Aiih ini film perang apa ya ga habis-habis haha.

Pas emang filosofi menikah dengan berperang. Ya jangan dipikir musuh perangnya itu istri ya! masa istri mau diperangi.. sebenarnya istri dan anak-anak itu adalah tawanan musuh atau ghanimah (harta rampasang perang). Yang diperangi itu ya ego kita, hawa nafsu kita, sifat-sifat jelek kita dan berbagai sikon yang mungkin terjadi di luar dugaan kita. Jadi ketika siap berperang dengan semua itu.. nanti kita akan mendapat kebahagiaan bersama istri dan anak-anak kita. Bahkan mungkin ada yang dapat ghanimahnya gak cuma 1 bisa aja 2, 3 atau 4.. istri atau anak nih? ya maunyanya aja yang mana.. 4 istri kan maksimal kan ya ūüėÄ

Berbicara ekspektasi ya sebenarnya sah-sah saja. Tapi menurutku jangan terlalu tinggi.. seakuratnya estimasi kita tentang perhitungan dunia. Ya bisa dikata mumpuni lah dari sisi harta. Tapi ketika berumahtangga pasti lingkup pembahasannya bukan hanya mencukupi nafkah lahir. Ada banyak hal yang terjadi, dan itu diluar dugaan kita lho! Misal dulu bisa saja istri kita yang sebelumnya polos, manis, nurut, pokoknya idaman banget lah. Eh pas udah nikah koq bisa jadi berubah yaa? Bukan hanya berubah fisik tapi bisa saja berubah perangai haha. Ya ini bukan nakut-nakuti lahh.. tapi bicara fakta aja dan tidak menyamaratakan semua wanita kaya gitu. Yang shalihah buanyak dan juga kadang tergantung kita sebagai suami yang mengarahkannya. Tapi manusiawi banget lho.. apalagi udah ada anak, 1,2,3,4 kaya aku hihi.. kayanya udah padat banget hari-hariku.. dan aku udah gak ada waktu lagi buat nulis postingan-postingan gak jelas kaya waktu bujangan dulu..

Jadi aku pesankan untuk adik-adikku, teman dan sahabat yang saat ini mungkin merasa merana banget ya karena masih jomblo. Nikmati dulu lah kejombloan ini..! Kadang aku juga pengen jomblo lagi. Tapi sehari aja. Beri aku waktu untuk sendiri. Hahay. Aku juga emong sih jomblo terus, walau di rumah udah kaya di pasar tapi tetap aja bikin kangen. Sebenarnya mungkin aku hanya butuh piknik dan refreshing. Tapi entah aku juga kadang gak tahu pengen piknik kemana dan refreshing dimana.. karena aku tidak bisa bilang ke anak-anak.. aku mau pergi ke masjid sama ke kantor aja anak-anak ribut maunya ikut terus haduh aku stress banget pokoknya wkwk.

Pokoknya selama jadi jomblo, jadilah jomblo yang keren dan selalu bersikap elegan. Kalau bisa jadi jomblo kaya dulu. Yah minimal walau seperti yang aku katakan ekspektasi indahnya menikah tak seindah yang dibayangan, tapi kalau masih punya duit gak akan menderita dan desperate banget. Kaya aku saat ini.. lagi stress banyak pengeluaran dan gajiku di awal bulan sudah minim banget.. alamat kupingku akan panas disindiri istri dan harus memutar otak lebih keras mencari recehan haha! koq curhat sih?

Tips Merapikan Rumah Singkat & Mudah ala papapz

tips-merapikan-rumah

Punya rumah yang selalu berantakan karena ulah si kecil? Jangan stress, jangan galau! Karena papapz juga sering mengalaminya. Dari mulai masih anak 1, sampai sekarang anak 3 dan mau anak 4 hihi.

Lho, apakah seorang papapz juga harus ikut andil dalam urusan beres-beres rumah? Hmm.. di zaman now, sepertinya udah gak ada lagi deh¬†jargon¬†“semua pekerjaan rumah dibebankan kepada istri atau mamamnya anak-anak” kasian kan? apalagi kalau mamamnya juga bekerja dan lagi hamil! pasti cape deh.. opps papapz koq bisa ya perhatian gitu sama mamam? aiih co cweeet ..

Yups seorang papapz juga selain bekerja di luar rumah, harus bekerja di dalam rumah haha istilahnya di luar kerja banting tulang..di dalam rumah harus lempar-lempar tulang juga xixi.

Merapikan rumah memang tugas yang berat sob! kelihatannya pekerjaan yang sepele tapi membutuhkan skill dan mood yang tepat! Bayangin aja, di sebuah rumah dengan 3 anak kecil kita akan mendapati mainan berserakan, buku dan pensil dimana-mana, belum lagi tumpahan air minum dan sisa makanan yang berceceran, baju kotor dan bekas ompol. Belum di dapur ada banyak piring kotor, dan sampah yang belum dibuang. Melihat halaman belakang, penuh tahi ayam karena sekarang papapz dikasi jobdesc buat miara ayam juga haha.

Sedih bro..sedih banget pokoknya! Kalau badan udah lelah, yang ada hanyalah tatapan nanar dan hembusan nafas panjang. Duh cup..cup..cup!

Langsung aja deh guys daripada hanya membaca keluhan yang akhirnya tak mendapatkan resep dokter. Kita simak penjelasan mengenai tips singkat dn mudah dalam merapikan rumah. Ini khusus bagi keluarga muda yang tidak mempunyai asisten rumah tangga ya! Soalnya kalau punya ART, ngapain juga repot hehe!

  1. Ikhlaskan niat bro! agar jadi ibadah. Ya, membantu istri adalah ibadah. Lihat Rosulullah dulu, beliau adalah sosok suami ideal yang penuh kemandirian. So, kita juga jangan malas bro jadi suami. Kasian istri ngurus anak banyak sendirian. Emang itu anak hasil kerjasama siapa? Kalau bukan suami yang bantu siapa lagi? Kecuali kalau udah pada jadi orang kaya, tinggal sewa ART kelar deh perkara hehe.
  2. Kerjakan di waktu yang tepat. Ambil satu waktu agar kita bisa mengerjakan tugas itu secara menyeluruh. Misal di malam hari ketika anak-anak sudah tertidur pulas. Atau di pagi hari ketika mereka belum bangun. Ini akan menciptakan suasana dan semangat dalam membereskan, membersihkan dan merapikan rumah. Kalau anak-anak masih aktif, percuma deh yang ada pegel dan capek karena harus mondar mandir beres-beres. Jadi cuekkin aja kalau rumah berantakan. Kecuali kalau papapz ngidap Obsesif kompulsif atau obsessive-compulsive disorder (OCD). Itu pasti cemas banget deh kalau liat yang berantakan, pasti dikit-dikit nyapu, dikit-dikit ngepel. Ampun rempong banget ya papapz! 
  3. Siapkan alat kebersihan dan simpan dalam satu tempat/wadah. Kita pasti membutuhkan sapu, pengki, alat pel, kain, kemoceng, dan lain-lain. Pastikan alat-alat tersebut selalu ready. Karena itu adalah senjata kita hehe.
  4. Lakukan dengan penuh kehati-hatian dan tanpa menimbulkan bising. Hal ini jika dilakukan di malam hari atau pagi hari ya. Jangan pernah membuat keributan sewaktu mencuci piring, atau merapikan mainan si kecil. Lakukan dengan penuh kesenyapan!
  5. Mulai dari kamar tidur terlebih dulu. Oke, kalau untuk membersihkan seluruh bagian rumah secara menyeluruh kita mungkin perlu waktu sampe 30 menit. Tapi yang paling awal adalah pastikan bagian kamar tidur terlebih dulu yang dibereskan dan dirapikan. Karena tentunya untuk membuat nyaman mamam dan anak-anak kita disaat tidur kan? Jadi sebelum tidur, ketika anak-anak masih bermain di ruang tengah atau ruang keluarga. Papapz segera tuh beresin kamar tidur, ganti sprei, ganti sarung bantal dan guling, sapuin dan lain-lain pokoknya pastikan kamar tidur nyaman. Kalau banyak nyamuk, bisa semprot dulu dengan anti nyamuk atau kalau panas bisa hidupkan kipas atau AC. Setelah itu baru deh kondisikan untuk tidur. Urusan beresin dan rapiin rumah bisa setelah anak tidur atau nanti besok paginya sebelum anak-anak bangun.
  6. Buatlah rundown pekerjaan. Minimal dalam otak, kita sudah bisa membayangkan dan menyusun rundown pekerjaan atau to-do list. Misal pertama setelah kamar tidur tadi, lanjut beresin mainan dan buku serta alat tulis, buang sampah, simpan pakaian kotor, lalu sapuin seluruh ruangan, pel dan kasih pengharum ruangan. Lanjut lagi misal ke dapur, bereskan piring kotor, cuci piring, sapu dan pel ruangan dapur. Lanjut ke cucian dll
  7. Fokus pada pekerjaan rutin saja. Untuk kegiatan harian, cukup kegiatan intinya aja bro! Misal tadi beresin mainan, buku, nyapu, ngepel, cuci-cuci, nah kalau untuk urusan beresin lemari dapur, kulkas, ngelapin kaca, beresin genteng itu mah nanti aja pas kita weekend. Kalau itu semua dikerjain ya gempor dong bang! pokoknya jangan sampai lebih dari 30 menit saja. Stress deh kalau harus diberesin semua xixi.
  8. Bantu sama anak-anak. Ini sebenarnya untuk melatih disiplin dan kemandirian anak. Kadang papapz suka ikut kesel liat anak-anak yang sukanya berantakin mainan, buku dan alat tulis. papapz suka kasih penegasan bahwa kalau udah selesai, mainan,buku dan alat tulis langsung dibereskan dan simpan ke tempat asalnya. Walau asli pegel.. seringnya pada lupa dan alhasil papapz jadi cuma tereak-tereak doang sampe serak dan haus! Sabar ya bro..

Oke, jadi itu dulu aja lah tipsnya. Intinya sih dalam hal merapikan rumah kita harus konsisten dalam menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Kalau hanya asal beres sih gampang.. udah beresin masukin semua ke karung lalu buang-buangin xixi.

Papapz cerita berdasarkan pengalaman. No Hoax dan anti pencitraan. Bro! hidup rumah tangga penuh perjuangan.. Papapz harus lebih banyak mengalah untuk meraih kemenangan! Ceilah.. Piss Ah!

sumber gambar: http://cdn2.tstatic.net/kaltim/foto/bank/images/interior-rumah-rapi_20160507_073903.jpg

Terima Kasih, Bunda!

Guys, hari ibu memang masih lama. 22 Desember ya! Tapi aku tidak akan menunggu sampai tanggal 22 Desember, karena kelamaan hehe. Aku ingin mengucapkan itu sekarang, karena entah aku akan masih bersama dengannya lagi atau enggak. Lho?

Postingan ini bukan tentang Bunda, Ibu kandungku atau juga Ibu mertuaku. Karena baik ibu kandung atau mertuaku, keduanya dipanggil dengan nama panggilan yang sama yaitu “Mimi”. Bunda di postinganku ini adalah tentang orang yang sudah menjadi bagian dari keluargaku, yaitu orang yang sudah membantu mengasuh dan menjaga anak-anakku selama ini. Ya.. dengan memanggil “Bunda” sebagaimana anaknya memanggilnya. Kami ingin agar anak-anakku menjadi lebih dekat dan memandangnya sebagai bagian dari keluarga kami. Kami tidak ingin menciptakan batas antara “asisten” dan “majikan” dan kami juga sudah tidak menganggap beliau sebagai orang lain di rumah kami. Dan kami berusaha menciptakan jalinan kekeluargaan yang semoga membuat kita nyaman selama ini.

Semenjak usia Arfa 3 bulan (sekarang 6.5 th) kami menerima Bunda di keluarga kami. Waktu itu kami masih ngontrak di rumah petak yang sangat sederhana dan belum memiliki rumah sendiri seperti sekarang. Bunda dikenalkan kepada kami oleh seorang senior ART (Asisten Rumah Tangga) di sekitar komplek rumah kami. Alhamdulillah, kami sejak setelah menikah langsung hidup mandiri dan lebih memilih tinggal dekat tempat kerja kami.

Istriku sudah cukup lama menjadi seorang pengajar di sekolah negeri dekat tempat tinggal kami. Setiap hari aku antar jemput dan mungkin sudah menjadi rutinitas harian dari sebelum punya anak sampai sekarang sudah mau punya 4 anak. Cukup melelahkan memang tapi mau tidak mau sementara ini.. itulah kondisi yang harus kami syukuri.

Waktu itu, anak bunda juga masih kecil.. masuk sekolah TK ketika bekerja di rumah kami dan sekarang sudah kelas 6 SD dan istriku yang mengajar di sekolahnya. Karena istriku mengajar dan menjadi wali kelas 6.

Perjalanan terus berlalu, hampir setiap dua tahun alhamdulillah anak kami berturut-turut lahir. Hingga saat ini anak kami 3, dan insya Allah akhir tahun ini akan lahir juga anak kami yang ke-4 (mohon do’anya ya guys..). Sebenarnya aku juga tidak menyangka akan diberikan amanah anak-anak yang begitu cepat. Memang yang usianya seumuranku dan nikah di usia 24-25 tahunan mereka sudah punya anak 4 (kalau tidak ikut KB ya :D) dan memiliki rentang waktu antara 1 anak dengan anak yang lainnya masing-masing 2 tahun hehe. Jadi waktu itu aku nikah akhir tahun 2010, dan di akhir tahun 2018 ini…anakku insya Allah 4. Waduh.. udah kaya produksi anak aja nih hehe.

Karena dari sebelum nikah, istriku memang sudah mengajar maka setelah nikah pun istriku lanjut mengajar. Dan aku memang belum bisa menghentikan aktivitas mengajarnya. Biarlah ada saatnya nanti ketika aku sudah mampu dan bisa membuat istriku bahagia.. istriku bisa aja berhenti mengajar. Tapi entahlah.. sampai sekarang semuanya masih disyukuri saja selama istriku masih mampu dan merasa enjoy dengan aktivitasnya selama ini. Toh, mengajar merupakan pekerjaan yang mulia.. disamping kadang suka terpusingkan dengan banyaknya tetek bengek administrasi atau konflik di tempat kerja.

Dengan aktivitas istriku mengajar. Otomatis dia tidak bisa full time menjadi seorang Ibu. Terutama ketika dia berada di sekolah ya! Kalau sekarang normalnya istriku harus standby di sekolahan dari pukul 7 pagi sampai pukul 2 siang. Jadi sekitar 6 jam anak-anakku tidak bisa bareng mamamnya. Sebenarnya hanya 1/4 nya saja dari keseluruhan waktu yang ada, tetap anak-anakku lebih banyak berinteraksi dengan mamamnya dibanding dengan pengasuhnya karena waktu dulu sebelum diberlakukan absensi pulang jam 2 siang. Biasanya Bunda hanya sampai pukul 12 siang aja membantu menjaga dan mengasuh anak-anak.

Kalau dihitung-hitung, berarti sudah 6 tahun lebih Bunda membantu keluarga kami. Sempat terpotong sih, sewaktu istriku kuliah S2 empat tahun yang lalu. Tapi waktu itu Afa, anak pertama kami masih belum sekolah kalau tidak salah jadi kami masih tetap meminta bantuan Bunda untuk tetap ke rumah. Ya, kami sebenarnya sangat terbantu dengan adanya pengasuh yang standby di rumah. Selain bisa sekalian menjaga rumah kami, kami lebih merasa tenang jika anak-anak bermain dan beraktivitas di rumah sendiri.

Waktu terus bergulir, pertengahan 2014 anak kedua lahir dan pas ada panggilan kuliah S2 akhirnya anak kedua pun dibawa ke luar kota. Ini sebenarnya menjadi satu bagian cerita sendiri. Nanti aku share juga tentang cerita aku LDR an sama istri dulu hehe. Dan pertengahan 2016, alhamdulillah anak ke-3 ku lahir. Alhamdulillah anak ketiga ini perempuan dan juga ketahuan hamil ketika istri masih kuliah S2 di luar kota. Sungguh suatu keajaiban memang dan anugerah dari Allah.. pasangan yang saling berjauhan tapi produksinya menghasilkan xixi.

Nah, ketiga anakku ini semuanya memiliki ikatan yang kuat dengan Bundanya. Karena pernah merasakan diasuh dari kecil. Yang full itu anak pertama, kalau anak kedua pernah lama dibawa neneknya sewaktu istriku hamil anak ketiga, dan anak ketiga juga cukup kuat bondingnya apalagi anak perempuan biasanya lebih lengket dibanding anak laki-laki.

Untuk sekarang ini, sebenarnya dengan kondisi anak-anakku yang sudah cukup besar. Aku tidak begitu kewalahan, anak pertama sudah sekolah SD Fullday dari pukul 7 pagi pulang pukul 4 sore. Kalau anak kedua, sekolah di TK tapi belum fullday hanya sampai 10.30 saja. Anak ketiga ( 2 tahun 3 bulan) masih full di rumah dan belum ada rencana untuk masuk sekolah lebih dini kecuali darurat ūüėÄ

Nah, anak ketiga ini yang masih belum terkondisikan karena harus full di rumah, jadi aku masih perlu bantuan pengasuh yang akan menjaga anak ketiga dan anak kedua yang pulang sekolah pukul 10.30 sampai istriku pulang. Paling yang paling full itu hari Sabtu..karena hari Sabtu anak pertama dan kedua sekolahnya libur jadi harus menjaga dan mengasuh 3 anak sekaligus. Memang merepotkan tapi Insya Allah anak-anakku selama ini selalu aku ajari untuk tidak merepotkan orang lain terutama pengasuhnya. Paling yang suka bikin pusing itu, kalau anak-anak udah pada ribut rebutan mainan atau makanan hehe papap mamamnya aja suka dibikin puyeng ^_^

Dengan kondisi seperti sekarang ini.. kami selalu berusaha membuat nyaman Bunda, pengasuh kami. Kami tidak membebankan pekerjaan-pekerjaan rumah semisal mencuci baju dll, paling sebisa dikerjakannya saja. Entah sedikit mencuci piring, melanjutkan mencuci baju di mesin cuci dan menjemurnya dan yang paling belum bisa kami kerjakan adalah nyetrika. Sebenarnya aku bisa membantu semua itu, tapi terkadang aku malas untuk menyetrika baju-baju gamis dan hijab istriku.. aku kurang rapi dalam melipatnya, kecuali mungkin digantung memakai hanger tapi menyetrika baju hijab syar’i itu membutuhkan dua kali tenaga menyetrika baju/celanaku dan anak-anakku hehe jadi terkadang aku sisakan saja baju istriku jika memang dirasa Bunda tidak sempat mengerjakannya.

Kami selalu bilang, bahwa pekerjaan rumah jangan terlalu dihiraukan. Kami hanya fokuskan ke pengasuhan anak-anak saja. Paling ya itu tadi kami minta bantuan untuk menyetrika saja sesempatnya. Selain itu insya Allah kami bisa mengerjakannya. Kami tidak mau semena-mena kepada asisten. Kami ingin mereka jadi partner kami di rumah, kami tidak mengajarkan kepada anak-anak untuk menyuruh dan memerintah dengan tidak sopan. Kami selalu mengajarkan untuk meminta tolong jika perlu bantuan dan tidak boleh bersikap tidak sopan.

Alhamdulillah, mudah-mudahan dengan sikap kami seperti itu Bunda bisa betah bersama kami. Kami tidak ingin seperti asisten-asisten di sekitar komplek rumah kami yang mungkin dibebani dengan setumpuk kerjaan dan beberapa faktor lain yang mengakibatkan asisten tidak betah atau si pemilik rumah memberhentikannya. Kami tidak ingin bergonta-ganti pengasuh, karena itu akan berpengaruh pada kondisi psikis anak-anak kami. Kami sudah nyaman dan percaya sama Bunda, dan kami berharap Bunda terus bersama kami.

Tapi akhir-akhir ini kami sedang galau.. karena setelah izin satu pekan setelah membantu saudaranya hajatan pernikahan. Tiba-tiba bunda sakit dan butuh istirahat sehingga tidak bisa ke rumah lagi. Kami galau segalaunya. Sempat dibantu sama Ibu mertua tapi Ibu mertua tidak bisa terus menerus membantu kami. Apalagi aku merajuk untuk dibantu oleh Ibu kandungku.. Beliau mungkin lebih dibutuhkan oleh Bapakku yang mereka kini hanya hidup berdua setelah anak-anaknya berumahtangga.
Sempat juga kami antarkan ke saudaranya istri, tapi anakku tidak betah dan aku juga ragu karena lingkungan rumah saudaranya istri kurang begitu kondusif. Dengan penolakan anakku tersebut aku tidak ingin memaksanya karena kasihan.

Akhirnya aku pun dengan istriku berbagi waktu. Aku kadang minta izin sama pimpinan di tempat kerja untuk bisa membawa anak ke kantor atau meminta izin masuk agak siang bergantian dengan istriku. Pernah juga anak ketigaku dibawa ke sekolahan istri, tapi karena istriku sedang hamil dan anakku suka rewel akhirnya aku bilang lebih baik tidak usah karena nanti akan merepotkan.

Akhirnya selama Bunda izin sakit, aku dan istriku berusaha memaklumi dan memberi waktu agar Bunda bisa beristirahat terlebih dulu. Aku minta tolong agar Bunda tetap bersama kami, kami tahu.. mungkin bisa saja Bunda sudah merasa bosan, jenuh dan mungkin juga cape. Kami juga merasakan sendiri mengurus dan mengasuh anak-anak itu tidak mudah. Perlu kesabaran ekstra dan hati yang lapang. Mungkin kadang anak-anak kami rewel atau kadang tantrum dengan berbagai sebab ketika kami tidak ada. Kami sangat memakluminya.

Kami galau, karena sebentar lagi anak ke empat kami insya allah akan lahir beberapa bulan lagi. Kami sudah pasti membutuhkan pengasuh yang akan membantu kami ketika kami bekerja. Tahun depan, anak kedua kami akan kami sekolahkan di TK fullday, bahkan anak ketiga juga mungkin akan kami coba sekolahkan di playgroup agar beban pengasuh kami tidak terlalu berat.

Mencari pengasuh anak itu tidak mudah.. karena harus dibangun di atas kepercayaan kami untuk menitipkan dan menjaga anak anak agar mereka terkondisikan semuanya dengan baik selama kami bekerja di luar rumah.

Jika benar bunda tidak bisa lagi ke rumah kami.. dengan berat hati kami harus berusaha mencari dan memilih orang yang tepat dan bisa sedekat bunda dengan anak-anak.

Kami tidak bisa mengandalkan orangtua kami untuk menjaga anak-anak. Kami harus mandiri dan survive dengan kondisi yang ada saat ini.

Kami jujur, kami memang belum menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak tapi kami selalu mengusahakan yang terbaik untuk mereka. Di atas segala dilema, istriku bahkan sempat mengutarakan niat ingin cuti mengajar, tapi aku selalu berusaha meyakinkannya dan menyemangatinya dan berdo’a semoga ada jalan terbaik untuk kami.

Dalam postingan ini, kami berdo’a semoga bunda senantiasa sehat dan selalu dijaga Allah. Sudah sepekan, Rai diantar ke rumah bunda, alhamdulillah walau kadang kami merasa repot tapi kami terus menjalaninya dan terima kasih masih mau menjaga Rai di rumah Bunda.

Kami hanya ingin yang terbaik untuk kami dan anak-anak. Terima kasih atas bantuan bunda selama ini. Kami mungkin belum bisa memberikan yang terbaik selama bunda bersama kami. Kami minta maaf jika kami ada salah dan khilaf. Dan juga atas sikap anak-anak yang mungkin kurang berkenan.

Semoga bunda bisa kembali ke rumah kami. Dan jikalau seandainya dengan sebab lain bunda tidak bisa lagi bersama kami. Kami masih tetap menganggap bunda bagian dari keluarga kami dan “bunda”nya anak-anak yang mungkin mereka belum bisa mengucapkan terima kasih secara langsung. Tapi.. kami yakin hati mereka merindukan bunda kembali ke rumah dan bisa bersama kami lagi.

Sekali lagi.. terima kasih bunda atas 6 tahun lebih kasih sayang dan ketulusan dari hati untuk anak-anak kami. Hanya Allah yang bisa membalasnya. Aamiin.