Membenci Untuk Mencinta

Dunia rumah tangga memang sebuah dimensi lain yang harus disinggahi oleh setiap manusia. Terutama bagi seorang laki-laki sepertiku. Selama lebih dari 8 tahun ini, aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda dibanding ketika aku menjadi seorang bujangan dulu. Entahlah, memaknai kata bujangan pada saat dulu ketika aku memang benar bujangan koq tidak kaya lagu bang rhoma ya! Bujangan, jomblo, single atau apalah namanya seperti sebuah konotasi yang negatif yang harus aku enyahkan identitas itu sebelum aku menyentuh usia 25. Padahal waktu itu aku belum matang, kalau dikatakan mapan..mungkin kelamaan. Tapi makna ‘matang’ bagi seorang laki-laki sepertinya sudah mencukupi untuk seseorang bisa masuk ke jenjang pernikahan. Matang disini ya bisa disamakan ketika kita melihat buah, ketika buah sudah matang maka dia sudah siap dijual dan siap untuk dikonsumsi. Orang lain juga senang, penjual dan pembeli senang. Duh, ngomong apalagi ini?

Waktu itu.. aku sadari, aku masih labil. Mungkin definisi labil tidak seperti anak jaman sekarang yang alay-alay gitu ya. Tapi waktu itu aku masih sangat sempit dalam memaknai apa itu hakikat pernikahan dan berumahtangga. Kayanya waktu itu aku terlalu menghayal dengan level tertinggi. Sehingga begitu menggebunya aku, melesat bagaikan roket sementara bahan bakarku hampir menunjukkan angka nol!

Aku koq seperti baru nyadar sekarang. Bahwa kalau mau perang, harus bawa amunisi banyak. Kalau mau travelling harus bawa bekal yang banyak. Kalau mau mudik harus isi tangki BBM full. Kalau mau belanja ya harus bawa uang hehe. Ya ujung-ujungnya aku akan berkata kalau mau menikah ya harus siap segalanya. Waktu itu aku belum siap.. tapi waktu itu tidak akan kembali lagi dan aku tidak akan membuat waktu dulu menjadi lebih baik lagi.

Aku sebenarnya kasihan sama istriku. Dia berpeluh lelah, dan mungkin selama lebih dari 8 tahun ini aku belum bisa memberikan dia sedikit kebahagiaan. Aku hanya membuatnya sedih dan mungkin lelah dalam diamnya. Aku sadar aku bukan tipe suami idamannya. Walau aku tahu dia masih menyimpan harap aku bisa jauh lebih baik lagi.

43302_membenci-diri-sendiri

Aku tidak meratap dalam tulisan ini. Tapi aku kian hari makin tak kuasa membendung lelah dan memfokuskan pikiranku untuk menulis banyak hal. Ada banyak rekaman jejak kehidupan yang sangat sayang untuk dilupakan. Tapi seringnya menguap begitu saja seiring lelah dan kantukku saat aku menemani anak-anakku tidur. Aku bawa laptop kerjaku setiap hari ke rumah, namun seringnya pikiranku buntu dan entah asaku hilang kemana.

Aku seperti kehilangan arah kehidupanku. Memikirkan ketidakpastian. Sementara anak-anakku kian hari kian besar. Mereka semakin dewasa dan aku malu jika mereka menyadari aku bukanlah seorang Ayah yang hebat. Aku hanya bisa menemani mereka. Tapi aku belum bisa memberikan mereka yang terbaik. Kadang aku sibuk sendiri, dan aku juga entah tenggelam dalam kesibukkan yang kelam. Dan aku seringkali membuang banyak kesempatan untuk aku bisa kaya, bisa pintar, bisa lebih soleh lagi.

O yah, aku tidak akan berpura-pura lagi. Aku harus menjadi diriku apa adanya. Aku lelah menjadi orang lain. Dan aku harus membuka mata dan mennyadari posisiku saat ini. Sepertinya tadi aku membuat judul membenci untuk mencinta. Tadinya aku mau cerita tentang betapa istriku membenci aku di satu sisi tapi dalam sisi lain dia begitu memupuk cinta yang tak biasa. Tapi sebenarnya aku juga seringkali membenci diriku sendiri kenapa aku selalu berada dalam posisi yang tidak tepat. Dan itu menyulitkanku. Aku seperti terkunkung dalam sebuah penjara yang sepi yang sebenarnya aku berada dalam posisi yang bebas dan aku membawa kunci penjaraku sendiri. Aku bebas keluar masuk tapi entahlah kenapa aku masih nyaman dalam penjara ini dan masih rindu ingin kembali menikmati kesendirian dalam penjara hati dan jiwaku.

Ada banyak kebencian yang dipupuk menjadi cinta. Dan cinta itu tidak seindah yang dibayangkan. Kadang cinta lebih membutuhkan banyak pengorbanan dibandingkan asyik dalam kenyamanan dan ketentraman. Kadang cinta begitu perih sehingga ia selalu menggenggam masa lalu yang ia bingkai dalam relung sanubari terdalam, dalam memori jiwa yang tak pernah bisa dihapus oleh waktu.

gambar: https://intisari.grid.id/read/0393311/tragis-ternyata-masih-banyak-orang-yang-membenci-dirinya-sendiri-ini-sebabnya?page=all

(Puisi) Yang Tertinggal Kini

one man

Dulu, waktu saya masih bujangan saya selalu galau. Sekarang juga masih suka galau sih, terutama kalau gak punya duit wkwkw. Pusing.. Arfa udah ngerti jajan soalnya 😛

Dan kalau galau, dulu saya suka bikin puisi-puisi gak jelas. Mungkin bukan puisi tapi tepatnya curahan hati seorang yang galau dan memerlukan pelampiasan untuk mengungkapkan kesumpekan hati hehe. Dan ketika saya buka Facebook, saya suka iseng buka-buka history atau timeline dan nemuin puisi-puisi saya yang di share, seperti puisi berikut ini ditulis tanggal 2 September 2009 atau 12 Rhamadan (waktu puasa galau ya hehe) Iya waktu itu saya baru satu tahun di Bogor, kuliah sambil nyambi kerja di Warnet.

Continue reading “(Puisi) Yang Tertinggal Kini”

Pelarian

pelarian

pelarian

Betapa banyak orang merasakan kegamangan dalam hidup. Berjalan gontai mengikuti arus waktu yang dirasa selalu menjadi rutinitas harian yang melelahkan. Kita butuh pelarian. Dimana ada satu tempat untuk melepas semua beban hidup yang semakin lama semakin menjadikan kita terpuruk dalam kehinaan. Walau terkadang hidup ini memuakkan. Berada dalam lingkaran yang tak berujung. Selalu berputar-putar dalam satu tempat menjemukan sampai akhirnya kita pun kehabisan tenaga lalu mati dalam ketidakberadaan.

Kita butuh pelarian. Lalu dimana Tuhan? Sedangkan kita pun saat ini tak pernah sedikitpun bisa menghentikan waktu. Kita hanya terus bisa bergulir, melepas canda dan tawa sampai akhirnya menangis dalam kesedihan.

Kita butuh pelarian. Berada di satu titik tertinggi dimana kita bisa jatuh menukik dan menghempaskan tubuh kita di bebatuan cadas lalu tersenyum ketika meregang nyawa.

Kita butuh pelarian. Walau entah mau kemana kita akan berlari. Menjauh.. Mendekati Kematian.

Puisi Untuk Istriku

Malam syahdu seiring hening menyelimuti jiwa yang sendu, teringat akan semburat cinta yang kini telah berlabuh. Mengarungi samudera kehidupan rumah tangga, mengayuh biduk perahu kasihku.

Istriku..engkau hamparan cinta dan kasihku yang selama ini telah ku semai diantara bebatuan cadas hatiku. Engkau warna hidupku yang telah merubah hitam putih kelam kelabu menjadi indahnya pelangi diantara rintik hujan sore ini.

Alangkah indah kebersamaan ini, memukauku dalam. Hingga aku tersenyum tertawa dalam riak-riak kecil ombakmu.

Wahai istriku.. Akar cintaku yang dulu terserabut kini telah kokoh menghujam tanah karena siraman cintamu. Keras dan beku jiwaku kini telah cair dengan sketsa rindu wajah dan katamu..

Duhai istriku, aku mencintaimu..kuharap juga engkau begitu..selamanya..selalu bersama..

Realita

realitaKadang.. hidup terasa sangat pahit. Begitu banyak kenyataan yang sangat jauh dari harapan dan impian kita. Lalu kita pun tidak lagi menghargai hidup. Terjebak dalam rutinitas. Dan mencoba untuk mencari pelarian.

Kadang kita lupa bahwa kita sedang berjalan perlahan untuk kembali pulang. Pulang ke sebuah tempat yang kini gerbangnya sedang menanti untuk kita buka. Menyusuri lorong kehidupan. Menghabiskan detik demi detik untuk tetap terjaga dan berdiri di atas puncak persaingan.

Continue reading “Realita”

Menunggu Hadirmu..

menanti hadirmuBtw, ketika bujangan dulu saya sering merasa galau dengan kesendirian saya. Maklum jomblo gan hehe. Saya sering menulis puisi-puisi galau dan mempostingnya di blog. Tapi kini setelah menikah dan mempunyai anak, saya tak bisa lagi berpuitis ria dengan kesendirian, kegelisahan dan keresahan. Yang ada adalah masalah-masalah realistis yang harus dicarikan solusinya.

Dan tidak tepat juga kalau masalah rumah tangga ini dijadikan puisi hehe. Atau bisa saja sih saya bikin puisi tentang kondisi kekurangan uang di akhir bulan, atau tentang suka duka hidup ngontrak 😀 tapi nanti dibilang lebay lagi hehe.

Continue reading “Menunggu Hadirmu..”