Buat Perjanjian Waktu agar Anak Tidak Kecanduan Internet

Hai sobat papap dimana saja berada. Suka merasa pusing gak, jika anak-anak sudah mulai terpapar dan kecanduan internet dan gawai? Kalau iya, sama dong hehe. Fenomena kecanduan internet pada anak-anak kian marak dalam beberapa waktu terakhir lho, apalagi selama pandemi Covid-19. Akibat kecanduan internet, anak-anak jadi malas belajar dan kesehatan, baik fisik maupun mentalnya, ikut terpengaruh.

So.. gimana dong caranya agar anak-anak tidak terus terusan mengakses internet? Padahal mungkin kebanyakan dari mereka hanya mengakses video di youtube atau bermain game online. Nah, salah satu cara untuk mengatasi anak kecanduan internet ialah dengan memberi mereka batasan waktu. Berlakukan batasan waktu bagi anak-anak dalam mengakses internet.

Dalam hal ini, perlu diingat bahwa orang tua atau wali memegang peranan penting dalam mengatasi kecanduan internet anak-anak. Karenanya, mereka diharapkan bisa dengan jelas memberikan batasan waktu bagi anak-anak untuk mengakses internet.

Jadi, sebelum memberikan gawai atau fasilitas mengakses internet sebaiknya orang tua membuat kontrak dengan anak untuk akses penggunaan internet. Misal, boleh akses berapa lama, jika mengakses berlebih sanksinya apa.

Terus cara berikutnya, memberi pengertian kepada anak soal alasan pembatasan penggunaan gawai dan internet. Berikan penjelasan dampak negatif yang didapat saat kecanduan internet, seperti munculnya masalah kesehatan mata, saraf, bahkan alami depresi.

Langkah lain yang bisa dilakukan ialah dengan memberikan anak-anak kegiatan alternatif selain internet. Misalnya, dengan memfasilitasi kegiatan sesuai dengan hobi atau kesukaan anak-anak yang sebisa mungkin tidak menggunakan internet.

Sebagai orang tua kita bisa mengalihkan perhatian anak kepada kegiatan lain yang positif atau bermanfaat. Memang sih ini merupakan tantangan terberat bagi orang tua. Apalagi jika kita juga masih sibuk bekerja. Tapi semoga sobat papap semuanya tetap semangat ya dalam membimbing anak-anak, apapun kondisinya. Salam ^^

Credit
Sumber tulisan: https://republika.co.id/berita/qiugb7414/atasi-anak-kecanduan-internet-dengan-buat-perjanjian-waktu
Sumber gambar: https://newsmedia.co.id/cp-pub/uploads/images/post/2018/06/internet.jpg

Cara Membesarkan Banyak Anak Tanpa Stress

Huaa, selalu gagal untuk semangat nulis di blog inih. Padahal ini adalah blog papap yang harusnya jadi diary sesungguhnya dibanding harus curhat di status whatsapp atau facebook hehe. Banyak alasan untuk malas nulis, malas mikir, malah berkreasi dan berinovasi. Ahh.. kadang kesal sama diri sendiri. Selalu merasa menjadi orang yang paling sibuk di dunia. Padahal mungkin masih banyak yang lebih sibuk daripada papap.

Gaess.. Gak berasa bulan ini blog papapz.com akan menginjak usia yang ke-7. Selisih satu tahun sama usia si sulung yang di bulan Februari ini menginjak usia ke-8. Tapi kenapa masih segini-gini aja yaks haha. Bener dah malas akut.. selalu kebanyakan berekspektasi tapi kurang aksi yang ada jadi selalu gigit jari huhu.

Gaess.. banyak orang yang merasa stress karena udah lama nikah tapi gak juga dikasi anak sama Alloh. Perjuangan sampe berdarah-darah, sampe ngeluarin uang banyak untuk terapi, beli obat, minum ini itu, olahraga, makan toge banyak-banyak (lho? :D) tapi qodarullah-nya Alloh belum juga ngaruniain anak. Padahal kalau dipikir-pikir, apa susahnya ya bikin anak? Sama kan ya caranya? Hihi.. tapi ternyata kita salah besar ya gaess.. Kadang urusan satu ini suka tidak bisa diterima akal logika. Contoh kecilnya, setelah diperiksa suami istri sehat semua, tidak ada yang aneh tapi koq lambat dapat keturunan? ujung-ujungnya sih kita harus banyak berdo’a dan tawakal gaess.. gak ada yang ngalahin kekuatan dan dahsyatnya do’a. Dan tak lupa perbanyak istighfar dan sedekah. Weleh udah kaya pa ustat xixi.

Beneran gaess.. papap dulu gak nyangka juga akan diamanahi 4 anak dalam rentang usia pernikahan 9 tahun. Oke kita coba rinci ya historinya:

  • Desember 2010 papap dan mamam nikah.
  • Februari 2012, lahir si mas. Anak pertama (cowok). usia 8th
  • Juni 2014, lahir babang. Anak kedua (cowok lagi). usia 5th 8 bln
  • Juni 2016, lahir kaka. Anak ketiga (cewek). usia 3th 8 bln
  • Desember 2018, lahir dede. Anak ketiga (cewek lagi). usia 1th 2 bln

See.. paling deket jarak tiap anak 2 tahun. Jadi mamam belum berhenti ya dari ngasi ASI selama 8 tahun, karena baru aja selesai ngasi ASI ke satu anak, keluar lagi anak berikutnya hihi. Sekarang mamam baru aja dicabut KB Spiral nya (IUD) beberapa bulan lalu. Mudah-mudahan gak tembus dulu huhu.. Asli karena yang cape bukan mamam juga. Tapi papap lah so pasti hiyaa.. ikut tanggung jawab juga ya. Tapi kalau dikasih amanah lagi insya alloh gak nolak koq!

Kalau tidak sabar, ngebesarin anak banyak itu bikin stress lho. Apalagi mamam bukan IRT biasa, alias masih harus membagi waktu untuk ngajar di sekolah. Jadi kudu bisa ngatur waktu kita agar semua bisa berjalan sesuai harapan. Di rumah selama 6 hari, Senin sampai sabtu dari pukul 06.30 pagi hingga minimal pukul 14.00 siang kita dibantu pengasuh di rumah. Habis itu, kita bareng-bareng ngebesarin anak-anak. Terutama fokus banget sama si bungsu ya, karena masih kecil dan ketergantungan sama kitanya masih tinggi.

Oke jadi gimana cara membesarkan banyak tanpa stress? Sebenarnya papap sama mamam juga suka stress juga sih ya. Normal kan ya? Papap gak mau boong dan memboongi pembaca hehe. Apalagi mungkin ketika kita sedang sakit, sedang banyak pikiran juga, itu ngaruh lho sama sikap kita ke anak-anak. Lho.. jadi malah curhat ya?

Sebenarnya stress atau tidak stress itu kembali ke diri kita masing-masing sih. Ada lho di komplek papap, yang anaknya 9 hiaa.. kebayang kan ya tapi belum 11 sih belum banyak ya eh tapi 9 juga udah bisa bikin timnas lho (buat sepakbola 9 anak plus 2 ayah ibunya wkwk), minimal bisa buat futsal udah sama tim cadangannya xixi.

Papap sih berharap anak-anak papap pada nurut, idep, pinter-pinter dan soleh. Jadi walaupun anak papap banyak tapi bisa bantu papap untuk tidak stress haha. Simpel sih sebenarnya, stress kan di pikiran kan ya, jadi upayakan agar kita selalu bisa jaga pikiran untuk tetap tenang dan dingin (masuk kulkas kali :D). Usahakan tidak ada masalah juga di rumah sama pasangan. Soalnya kasian kalau pas gak akur sama pasangan, suka ada imbas juga sama anak-anaknya. (pengalaman ni yee ^^)

Hmm.. simpel sih ya tapi memang suka susah dalam realitanya. Iya sih setuju.. papap juga masih suka susah kalau lagi bad mood bawaannya selalu sensitif. Liat anak-anak berantakin rumah, berisik, ada yang nangis.. hhhh.. berasa pengen teriak dan numpahin kekesalan sama anak-anak. Nanti yang ada anak-anak pada melongo, antara gak ngerti sama takut sama papapnya hihi. Kasian ya.. Tapi tenang gaess.. sebenarnya wajar lho asal jangan sampe pake kekerasan fisik aja. Walau kekerasan verbal juga ngaruh, tapi.. siapa orangnya yang bisa nahan emosi di satu momen tertentu yang saat itu kita udah kaya gak bisa nahan begitu banyak rasa dalam dada. Sesaak.. Tapi gak tahu kenapa bisa numpahinnya ke anak-anak yang masih polos itu. Akhirnya sih nyesel gitu kan gaess.. nah kalau masih ada rasa nyesel itu bagus berarti anda bukan psikopat xixi.

Terlepas dari kekurangan itu. Papap mulai gak ngebiasain untuk stress di depan anak-anak. Intinya kita harus mulai pandai menjaga emosi kita ketika di rumah. Ada masalah di luar rumah, taro dulu deh jangan dibawa masuk. Kasian kan istri sama anak-anak. Mereka tak selayaknya menerima sikap kita yang tidak baik. Gak secara langsung ngasih contoh juga sih ke mereka. Kalau kita orangnya emosian, gampang tersinggung, mudah meledak-ledak pasti deh anak akan juga mencontoh sikap kita. Jadi usahakan tetap santuy.. dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dunia anak-anak sejatinya dunia yang sederhana lho. Asal jangan terpapar sama sinetron alay aja ya hahaha. Usahakan kita bisa masuk ke dalam dunianya dan ikuti alurnya. Kalau kita bisa menyatu dengan dunianya, insya allah banyaknya anak tidak akan menjadi masalah karena anak-anak akan ada dalam genggaman kita. Kita bukan mengaturnya seperti robot, tapi kita seolah-olah punya tali kekang yang bisa kita tarik ulur hmm.. amazing sangat dah hehe.

Oke gaess.. itu aja sih sebenarnya. Gak terlalu rumit kan? Papap khawatir disangka sombong kalau harus banyak-banyak ngasih nasihat (yang ada curhat, bukan nasihat :P). Intinya anak sedikit atau banyak itu amanah dari Alloh. Kita tidak usah bangga dengan banyaknya anak. Banyak anak tapi tidak berkualitas juga sama aja boong dan nambah beban kita kan ya? Jadi bagi anda yang baru punya anak 1, atau bahkan belum punya anak. Tetap sabar aja gaess.. Alloh gak akan dzolim sama hamba-Nya. Selalu ada hikmah di setiap kondisi kita. Selamat berjuang untuk Anda para suami dan Ayah. See you di postingan lainnya.

credit image: klikdokter

Cara Memanfaatkan Waktu Anak Pada Saat Liburan

Aiih udah tahun 2020 aja ya hehe, gak berasa blog papapz.com udah mau 7 tahun. Sebenarnya udah lelah banget nulis. Aku sering berpikir menulis itu membutuhkan waktu. Harus mikirin idenya, belum merangkai katanya, belum ngeditnya haha padahal dulu cita-citanya pengen jadi penulis. Ketika usia bertambah memang cita-cita sesesorang seringkali berubah.

Orang-orang banyak banget menuliskan rencana atau progres apa yang akan di lakukan di tahun 2020 ini. Tapi aku sebagai Ayah 4 anak, masih sibuk memikirkan bagaimana mengelola waktu anak-anak seefektif mungkin. Rempong banget deh punya anak banyak, apalagi jika hari libur. Misalkan di hari Sabtu dan Ahad. Atau seperti sekarang di liburan anak sekolah.

3 dari 4 anakku sekarang sudah sekolah. Sulung kelas 2 SD Fullday, anak kedua di TK Fullday, Anak ketiga Playgroup Halfday. Ketika Sabtu mereka libur. Sementara Aku dan istriku tidak libur. Jadinya masih suka pusing mengatur waktu anak-anak di saat mereka liburan.

Kenapa yah anak-anakku itu tidak seperti anak-anak yang lain yang suka ngebolang atau explore berbagai hal di luar rumah. Mereka asiknya di dalam rumah apalagi kalau udah main hape android. Pusing sendiri deh hehe

Memang sih pada akhirnya aku introspeksi diri dengan keadaan anak-anakku. Mungkin aku dan istriku terlalu sibuk, kadang gak pas juga sih anak-anak dan istri liburan, tapi akunya enggak. Jadinya gak jelas gitu kan ya hehe.. Yang ada anak-anakku akhirnya ikut ke kantor. Waduh bikin rusuh akhirnya..

Akunya jadi curhat ya haha.. Tapi pada dasarnya membuat waktu anak-anak bermanfaat itu mudah banget asalkan kita sebagai orangtua konsisten dan mengarahkan sebaik mungkin dengan menemani anak-anak bermain dan mengisi waktu luang atau liburnya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Enaknya sih kalau anak libur, orang tua juga ikut liburan dong ya! Biar sama-sama happy tapi kalau misal anak-anak hanya bisa bersama ibu di rumah atau pengasuh. Pastikan partner kita memiliki visi dan misi yang sama dalam membuat waktu anak-anak menjadi lebih bermanfaat.

Harusnya sebelum waktu liburan tiba, orangtua dan anak-anak membuat sebuah planning atau rencana kegiatan full selama liburan agar anak-anak juga faham dengan apa yang harus mereka lakukan ketika liburan. Walaupun misal ayah dan ibu mereka tetap bekerja atau berkatifitas rutin, tapi selama liburan anak-anak tidak akan bingung mau ngapain.

Berikut ini beberapa contoh kegiatan yang bisa anak lakukan selama liburan:

  1. Rekreasi. Liburan memang identik dengan rekreasi. Rekreasi bisa kemana saja. Ke gunung, pantai, pedesaan, kolam renang dll. Kalau berencana rekreasi di dalam kota atau dalam jarak dekat maka bisa dijadwalkan akan pergi kemana saja selama waktu liburan berlangsung. Tapi kalau mau rekreasi ke luar kota atau luar negara tentunya harus mempersiapkan segala sesuatunya karena tidak bisa hanya dalam sehari.
  2. Berkunjung ke rumah nenek/om/tante/pakde/bude. Selama liburan kita bisa jadwalkan pula anak-anak untuk mengunjungi rumah kakek nenek atau sodara-sodara dari ayah dan ibu. Biasanya kan rumah kakek nenek itu di pedesaan ya, jadi bisa belajar dengan suasana yang baru.
  3. Camping/berkemah. Anak-anak juga bisa berlatih disiplin dan mandiri dengan mengikuti kegiatan camping/berkemah. Baik itu secara mandiri atau mengikuti program berkemah yang diadakan dengan paket berbayar.
  4. Mengikuti program mondok/pesantren selama liburan. Ada juga pesantren atau sekolah Islam yang menyelenggarakan pesantren selama liburan. Biasanya ada yang sepekan, sepuluh hari atau dua pekan. Nanti disana akan diarahkan dengan berbagai macam kegiatan Islami.
  5. Mengikuti kursus. Ada juga kursus yang diselenggarakan selama liburan sekolah. Misalkan kursus memasak, bahasa arab, bahasa inggris dll.
  6. Full kegiatan di rumah. Pilihan terakhir yang bisa diambil jika tidak ada punya rencana kegiatan khusus atau ke luar kota. Maka Anda bisa merencanakan berbagai macam kegiatan untuk bisa dilakukan di dalam atau di sekitar rumah. Misal membuat prakarya, berkebun, dll yang intinya anak ditemani bermain dan dalam segala aktivitasnya.

Demikianlah beberapa kegiatan yang bisa dilakukan selama anak liburan sekolah. Walau waktu liburan sudah berakhir saat ini, mudah-mudahan bisa menjadi referensi untuk saya dan anda.

Ayah, Diantara Sikap Tegas dan Keras

ayah tegas keras

Dulu, orang yang paling aku segani adalah Bapakku. Waktu kecil aku memang seringkali ditinggal Bapa merantau. Sampai aku usia kelas 3 SD sampai Bapak aku sakit parah dan akhirnya tidak pergi merantau lagi. Bapak dulu termasuk orang yang keras. Aku tidak bilang Bapakku kasar. Kalau kasar dan keras beda ya. Kalau kasar, pasti condong ke perkataan, sikap dan selalu main fisik (memukul, menendang, dll). Tapi aku pernah sih dipukul sama Bapak karena aku gak nurut dan melawan.

Bayangan itu selalu terlintas di kepalaku. Sampai aku membuka mataku, ternyata saat ini aku sudah memiliki 4 anak. Jujur ini diluar ekspektasiku. Memiliki banyak anak  dengan usia berdekatan.

Kini seiring dengan bertambahnya usia Bapak, Karakter bapakku sudah semakin lemah lembut walau seringkali ada perkataan-perkataan yang menyinggung. Tapi Aku gak mau  jadi anak durhaka. Aku gak mau melawan orang tua dan mencari masalah dengan keluargaku sendiri.

Berkaca pada Bapakku. Kini aku ingin menerapkan siklus yang berbeda kepada anak-anakku. Dulu aku tidak dekat dengan anak-anakku. Sekarang aku berusaha dekat dengan semua anakku. Aku tidak ingin pencitraan bahwa aku ini good dady, dengan terus menulis kedekatan dengan anakku atau share poto-poto yang memperlihatkan gimana aku dekat dengan anak-anak. Duh kayanya bukan tipeku seperti itu.. Cukuplah hanya aku dan anak-anakku yang tahu gimana aku yang sebenarnya.

Memang kadang ketika aku bad mood, lelah dan ngedrop. Anak-anak suka jadi sasaran.. tapi aku gak segitunya ke anak-anak. Mungkin ada yang nilai aku ayah yang jahat, kasar, dan malah tidak sayang. Kenyataannya, aku sangat sayang ke mereka.. semuanya, dan tidak aku beda-bedakan. Memang kadang karakter anak yang satu dengan anak yang lain beda-beda. Ada anak yang masih manja walau udah gede, ada anak yang mandiri, ada anak yang idep kalau dibawa kemana-mana, ada juga yang gak betahan. Dan ini semua kekurangan dari anak-anak yang harus aku fahami.

ayah tegas keras

Kayanya manusiawi banget deh kalau pas lagi lelah.. orang tua suka ada yang lost controll.. Tapi kembali lagi ke diri kita, karena ada yang kebablasan sampai maaf ada yang sampai menghilangkan nyawa anaknya sendiri tapi ada juga yang ketika kesel, anaknya ditinggal nangis sendiri, ada yang mungkin juga teriak-teriak geram, atau ada yang sampai main fisik misal memukul, tapi habis itu nyesel banget ikutan nangis juga saking desperatenya.

Nah.. Kita termasuk yang mana? jujur yaa.. kalau saya memang suka kelepasan juga misal dengan memukul anak. Dan saya tahu itu salah. Dan saya gak mau mencitrakan diri saya sebagai ayah yang bersih dari tindakan-tindakan yang gak baik. Kadang setelah itu saya nyesal dan memenej diri saya kembali. Dan seiring bertambahnya usia saya juga bisa seperti bapak yang akan berubah lembut dan menjadi pribadi yang baik.

Kadang ketegasan itu penting. Tapi tegas bukan berarti kasar. Misal anak yang gak mau sholat di usia 10 tahun. Dalam Islam boleh lho untuk dipukul. Nah tapi bagaimana cara memukulnya, pake apa, dimana, kapan, sekeras apa..itu diatur gak maen pukul pake emosi semata lalu kita puas melihat anak kita kesakitan. Eh psikopat banget sih ya guys!

Kadang kita suka kesel gak sama orang tua yang biarin anaknya nangis di toko mainan? Anaknya kejer, tantrum, teriak-teriak pengen beli mainan yang mahal misalkan. Kalau kita di posisi sebagai orang tuanya, apa sikap yang terbaik? Mungkin jika Anda punya uangnya dan tidak ingin repot sih langsung aja dibelikan mainannya biar anak diam. Tapi apakah itu akan menjamin di lain hari si anak gak bersikap begitu lagi ketika ada sesuatu yang diinginkannya lalu kita gak memenuhinya?

Ya, kadang kita suka menjudge orang tua lain tidak sayang sama anaknya hanya karena gara-gara mainan. Tapi apakah kita tahu pendidikan apa yang sedang dijalankan oleh orang tua lain kepada anaknya? Bisa saja, si anak memang anak yang manja dan sudah banyak membeli mainan jadi si ortu ingin mengedukasi anaknya untuk tidak terus membeli mainan. Lalu ortu tersebut membiarkan si anak menangis atau segera mengangkatnya ke tempat lain.

Kadang ketika aku menulis apa adanya. Orang lain seringkali mendapati aku seperti orang dengan karakter yang berbeda. Boleh aja sih kan blog ini untuk umum dan semua boleh komen hehe. Dan tulisan ini bukan sebagai klarifikasi dan pembelaan. Kalau mau tahu gimana sifat orang tua, baik ataukah tidak.. bisa koq kita tanya anak-anak kita.. anak-anak kita itu polos dan tidak bisa dibohongi. Kalau misal ayahnya baik, ia pasti akan mengakuinya. Kaya anak-anakku mereka suka bilang sayang papap.. tapi mereka juga tahu kalau aku lagi marah. Jadi aku balance aja gak menutupi kekuranganku dalam tulisan-tulisanku sekarang. Jadi mohon maaf ya kepada pembaca jika ada yang tidak nyaman dengan tulisanku ^^

Gadget bukan Candu Teknologi untuk Anak

Sekilas seperti tidak ada hal yang aneh saat matahari kembali menyapa. Ketika satu persatu anak-anakku mulai terbangun. Aku selalu khawatir ketika mereka bangun terlalu pagi dan aku tidak sempat mengalihkan perhatian mereka karena aku juga selalu sibuk dengan segala tetek bengek urusan domestik.

Apalagi ketika si kecil yang ke empat kini telah lahir. Aku seperti selalu di ambang kegalauan, menyesal namun semua kini telah menjadi rutinitas semu yang harus kuhadapi. Anak-anakku memang masih dalam usia labil. Hampir 7 tahun, 4.5 tahun, 2.5 tahun dan 3 pekan.

Aku tahu aku telah salah jalan, ketika aku mengenalkannya pada gadget smartphone. Di usia dininya si sulung adalah korban pertamaku, menyusul 2 tahun kemudian anak keduaku, lalu menyusul 2 tahun lagi anak ketigaku. Aku entah mungkin terlalu sibuk untuk sering mengajak mereka bermain baik di dalam atau di luar rumah. Sehingga yang ada kubiarkan mereka dalam fantasi tinggi dunia maya terutama melalui video-video youtube dan game-game gratisan yang dengan sangat cekatannya mereka unduh sendiri di playstore.

Kini aku hanya bisa menghela nafas ketika di pagi hari, ketiganya merajuk minta dipinjamkan “hape”. Mereka baru akan berhenti hanya ketika mereka akan berangkat ke sekolah. Si sulung akan jauh lebih lama lepas dari hape karena dia sekolah fullday sampai jam 4 sore, si kedua akan merajuk lagi meminta “hape” di jam 11 siang sepulang sekolah TK. Lalu si ketiga, anak perempuanku yang pertama dia kini sudah mulai pintar mencoba menghancurkan benteng pertahananku juga. Sedih..

kecanduan gadget pada anak

Setelah semua seperti rutinitas, aku lelah, bosan dan menyesal. Dan aku berharap semuanya tidak menjadi candu yang akan menjadi penyakit bagi mereka. Istriku yang selalu menyalahkan aku mengapa dulu aku mengenalkan mereka pada smartphone. Apalagi setelah pasang internet di rumah, semuanya diakses lebih mudah dengan wifi.

Padahal tujuan awal aku memasang internet di rumah adalah untuk fokus pada berjualan online. Tapi mengapa sekarang semua menjadi bias dan pudar? Aku pun masih stuck dalam bisnis onlineku.. malah anak-anakku yang banyak menikmati internet untuk membuka youtube dan mengunduh games.

Saat ini aku mulai mencoba menerapkan aturan-aturan untuk meminimalisir mereka bersentuhan dengan smartphone. Walau kadang hatiku sesak, tapi kucoba sabar membiarkan berbagai macam mainan berserakan di lantai ruang tengah. Daripada mereka anteng dengan hape di tangannya, lebih baik aku biarkan mereka asyik dengan mainannya. Membuka jendela imajinasi mereka dengan bermain peran dan membuat berbagai macam bentuk dari mainan legonya. Yang perempuan, aku biarkan dia main masak-masakkan atau entahlah bermain apa yang penting dia tidak memegang hape seperti kakak-kakaknya.

Tantangan orang tua di zaman sekarang sudah semakin tinggi. Mereka tidak bisa dicegah. Karena aku perhatikan hampir semua anak-anak mereka sangat suka kalau bermain gadget bahkan ada yang memang difasilitasi oleh orang tuanya. Yang bisa dilakukan oleh orang tua sekarang ini hanyalah pengawasan dan tindakan yang penuh bijak jika anak memang harus bersentuhan dengan gadget. Menurutku anak-anak untuk usia balita, TK sampai SD tidak perlu diberikan fasilitas smartphone canggih. Kalaupun mau belikan hape yang hanya bisa untuk SMS dan nelpon saja, misal hanya untuk mengkonfirmasi kita sewaktu minta dijemput pulang sekolah.

Jika mereka ingin menggunakan smartphone untuk menonton atau bermain game. Maka berikan aturan seketat mungkin. Beri aturan waktu yang jelas, misal 30 menit saja. Lalu setelah waktu habis segera ambil dari genggaman mereka. Dan awasi apa saja video yang mereka tonton dan game apa saja yang mereka unduh dan mainkan. Sebisa mungkin beri mereka motivasi bahwa hape bukanlah segalanya dan bukan alat bermain yang utama. Sebagai orang tua memang kita dituntut ekstra untuk menemani tumbuh kembangnya untuk bermain bersama baik di dalam atau diluar rumah.

Semoga satu saat, mereka tidak lagi meminta hape untuk mengusir kebosanan mereka. Lepas sudah keinginan mereka untuk tenggelam dalam dunia maya. Lalu berganti dengan keriangan dengan bermain bersama kakak, adik dan teman-teman mereka.

Apa yang teman-teman rasakan saat ini? Apakah sama dengan yang aku rasakan? Atau ada tips yang bisa dibagikan juga? Yuk share..

Tips Ayah ketika Si Kecil terbangun dan menangis di malam hari

http://assets.nakita.id/media/article_image/cover/original/6836-anak-tiba-tiba-menangis-saat-tidur-malam-kenapa-ya.jpg

Saat ini anak papap 3 (Arfa, Hanaan, Raihanah). Masing-masingnya memiliki karakteristik yang berbeda-beda, di saat tidur pun tingkah lakunya beda-beda. Kalau masih bayi terkadang masih suka rewel, wajar kan ya.. karena pasti suka pengen nyusu, lapar, gerah, digigit semut, atau bahkan ngompol/pup. Nah, tapi kalau udah seusia Hanaan yang usianya sudah menjelang 3 tahun tapi masih suka rewel dan seringkali terbangun di malam hari sambil nangis. Koq aneh ya? Apa sih penyebabnya? Papap mau share ni..

Sebab dan solusi ketika Si Kecil suka terbangun dan menangis di malam hari

Banyak faktor yang menyebabkan si kecil suka  terbangun dan menangis di malam hari, sebab-sebabnya sih hampir sama saja. Bisa jadi karena mimpi buruk, karena sakit panas, digigit nyamuk, gatal-gatal, atau ingin minum dan lain-lain. Memang sih kalau sudah tahu apa penyebabnya si kecil tiba-tiba bangun dan nangis dan si kecil langsung bisa menyampaikan ke kita apa masalahnya, kita pun pasti segera mencari solusinya. Tapi jika si kecil hanya bisa menangis kencang dan susah untuk berhentinya, itu yang repot! hehe. Pengalaman nih.. sepertinya waktu Arfa jarang banget dia nangis secara tiba-tiba, paling kalau ngompol dan udah gak nyaman.. kalau nyaman ya pules aja tidurnya. Nah kalau Hanaan, dia suka banget tiba-tiba bangun dan nangis kenceng. Papap share ya terkait Hanaan dan Arfa juga.

1. Karena kehausan

Kalau nyadar haus, dia biasanya langsung bilang haus dan minta minum. Tapi kalau udah nangis dulu lama terus ujung-ujungnya minta minum.. nah ini mah namanya bangunin papap buat tahajud hehe. Walau seringnya kalau masih tengah malam, papap tepar ikutan tidur lagi 😀 Solusinya segera berikan minum, jika males ke dapur mending sebelum tidur siapin minum dulu satu gelas/botol. Jadi kalau malam-malam minta minum gak usah bangun lagi tinggal ambil aja di dekat tempat tidur. Tapi awas ya seringkali kena tendang dan airnya tumpah hehe. Mungkin lebih baik jangan di gelas kali ya tapi di botol aja atau kalau mau di gelas ya simpannya jangan di bawah tapi di atas lemari atau tempat lain yang lebih tinggi gitu deh ^^

2. Karena gatal

Bisa  saja ketika tidur si kecil gak nyaman terus dia ngerasa gatal karena digigit semut atau serangga. Pernah Hanaan waktu tidur digigit semut sampai bibirnya bengkak, pernah juga Arfa tiba-tiba bentolan banyak banget di sekujur tubuhnya (biduran) atau mungkin bisa jadi si kecil kena alergi makanan, binatang atau faktor lainnya. Solusinya jika memang si kecil sudah merasakan gatal, kita bisa membuka dan mengganti baju dan kaos dalam si kecil dengan yang baru, dikasi lotion anti gatal yang adem, bedak atau minyak kayu putih, lalu digosok-gosok dan dikipasi yang gatelnya sampe si kecil nyaman kembali. Jangan lupa juga sering-sering mengganti sarung bantal dan spreinya ya sebelum si kecil beranjak ke tempat tidurnya.

3. Karena gerah

Saat musim kemarau seperti sekarang ini (tapi masih suka hujan juga sih ^^) biasanya hawa di kamar tidur suka bikin gerah. Walhasil dari mulai kecil, terutama Arfa kalau mau tidur harus kipasan dulu. Sampai seringkali kejadian udah berkali-kali beli kipas angin tuh karena tiap malam non stop muter terus sampai dinamonya rusak wkwk. Terakhir beli kipas baru eh baru beberapa bulan dah rusak lagi 😀 Emang sih kalau ada duitnya sih beli AC hehe.. tapi karena TDL (tarif dasar listrik) nya naik lagi, siap-siap aja deh nanti beli token listriknya dobel ^^ Jadi solusinya ciptakan kondisi ruangan yang adem, gak perlu buka jendela sih..fentilasi ruangan aja harus cukup, kalau perlu kipas angin ya dinyalain tapi sebenarnya kalau sering-sering pakai kipas angin biasanya bikin masuk angin ya apalagi kalau tidurnya sambil gak pakai baju hehe.. Ya pokoknya gimana caranyalah jangan sampai si kecil kepanasan terus dia akhirnya tidurnya gak pulas.

4. Karena lapar

Jarang banget sih anak-anak papap tiba-tiba bangun karena lapar. Kecuali dia tidurnya nanggung dari sore, pasti deh bangun lagi karena biasanya kalau tidur terus perutnya belum kenyang, nanti tidurnya gak pulas karena perutnya keroncongan dan bikin gak nyaman. Nah kalau bisa sore-sore si kecil makan dulu, terus jika ada camilan-camilan ya si kecil makan dulu sampai perutnya kenyang. Kalau si kecil perutnya kenyang insya Allah si kecil pulas deh 🙂

5. Karena mimpi buruk

Si kecil bisa saja mengalami mimpi buruk dalam tidurnya. Walau entah terkadang gak tahu juga si kecil mimpi apaan..apa mimpi dikejar badut? Hehe.. Tapi kalau tiba-tiba bangun terus keringetan, terus ekspresinya ketakutan, bahkan bisa sampai ngompol, menjerit-jerit dan menangis kencang. Nah kalau seperti itu, kita bisa mendekapnya, menggendong, menemani si kecil tidur lagi, memberinya air putih, membelai rambutnya, terus jangan lupa membacakan do’a dan dzikir untuk menjaga si kecil dari gangguan setan dan jin. Kesannya horor gitu ya.. tapi tenang kita punya Allah jadi jangan takut OK! masa pas anaknya takut, Ayahnya ikutan merinding juga? wkwk

6. Karena kelelahan

Terlalu lelah juga bisa menyebabkan si kecil tiba-tiba bangun dan menangis. Mungkin dia banyak beraktifitas di siang harinya, bayi yang baru belajar berjalan, atau si kecil habis jalan-jalan dan banyak beraktifitas yang menguras tenaganya. Ini bisa menyebabkan si kecil gak pulas juga lho! Solusinya, mungkin sebelum tidur si kecil bisa dipijit dulu dengan lotion atau baby oil.. Arfa dan Hanaan rutin banget bahkan seakan jadi ritual sebelum tidur minta dipijit/diurut pakai lotion 😀 padahal kalau mau dipikir..papap harusnya yang perlu dipijit wkwk.. Tapi bener anak-anak juga bisa merasa lelah dan pegal-pegal ^^

Nah, itulah guys beberapa faktor yang bisa menyebabkan si kecil tiba-tiba bangun dan menangis di malam hari. Semuanya berdasarkan pengalaman papap saja, sebenarnya dari apa yang papap baca masih banyak sebab yang lainnya. Tapi intinya kondisikan si kecil untuk nyaman dalam tidurnya. Setiap hal apa saja dan apa pun itu harus kita minimalisirkan pada si kecil. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat 🙂

Encropsis pada Arfa

encropsis

Akhir-akhir ini, papap seringkali dibuat jengkel dengan tingkah laku Arfa (5th). Sekitar 2 pekan terakhir ini Arfa seringkali pup (BAB) di celana terutama sewaktu berada di sekolah (TK). Sebenarnya, sebelum kasus ini Arfa sudah terbiasa untuk bilang ketika akan pup, dan selalu papap antar ke kamar mandi untuk mengeluarkan pupnya. Tapi, entah papap belum tahu sebab pastinya kenapa sekarang Arfa seringkali pup di celana terutama di sekolahnya.

Sampai terakhir kalinya Arfa sekolah di hari jum’at, di dalam tasnya Arfa kembali papap temukan kantung plastik berisi pakaian olahraga dan celana dalam yang kotor dan bekas dicuci oleh ibu gurunya. Hmmm.. sebenarnya apa yang terjadi dengan Arfa ya?

Akhirnya papap searching juga deh di internet. Dan ternyata bukan hanya Arfa saja yang mengalami seperti itu. Menurut istilah kesehatannya, perilaku anak yang suka pup tidak pada tempatnya biasa disebut sebagai encropsis.

Dulu ketika usia Arfa menjelang 3 tahunan juga sempat seperti itu, padahal sudah punya adik (Hanan, waktu itu usianya belum 1 tahun) dan padahal sudah diajarkan toilet training. Memang waktu itu, mamamnya sedang kuliah lagi di Malang jadi Arfa sempat jauh-jauhan sama mamamnya.

Sekarang, papap sama mamamnya belum tahu pasti apa penyebab Arfa jadi kaya gitu lagi. Sedih deh.. soalnya teman-teman sekelasnya gak kaya gitu dan parahnya dia jadi suka dibully dengan perilaku encropsisnya di sekolah itu.

Beberapa hal yang papap prediksikan kenapa Arfa bisa seperti itu adalah mungkin bisa jadi karena adanya faktor psikis dan bukan semata faktor fisik semata, memang menurut sumber bisa saja sistem pencernaan Arfa tidak lancar karena terakhir tadi mengeluhkan sakit di perutnya dan seringkali bentuk pupnya keras akibat jarang banget makan sayur dan buah (kurang serat) dan juga senang banget mengkonsumsi susu instan (cair atau seduh).

Tapi setelah papap cermati hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar saja, karena Arfa memang dari usia dia sudah mulai makan nasi, hampir setiap kali makan tidak mau sama sayur paling kuah sama nasinya saja. Apalagi buah-buahan, tapi sekarang sudah agak mending karena di sekolah ibu gurunya sering memotivasi untuk makan buah dan sayur. Jadi Arfa sudah mulai mau untuk nyobain makan sayur dan buah tertentu.

Menurut penelitian, gejala encropsis memang seringkali diderita oleh anak laki-laki usia 4 tahun ke atas, dan kebanyakan karena stress psikososial. Duh, jadi ngeri deh ngebayanginnya.

Papap akhirnya mulai mengintrospeksi diri, mungkin bisa jadi karena papap waktu itu pernah bertengkar sama mamam di depan Arfa. Memang ada sebab pertengkaran dan perceraian orang tua yang jadi penyebab anak menjadi encropsis. Tapi sebenarnya kan wajar ya suami istri bertengkar walau pada akhirnya baikan lagi, tapi salah juga kali emang waktu itu papap lost control dan akhirnya malah meluapkan emosi kepada mamamnya di depan Arfa.

Atau bisa juga karena Arfa kebanyakan nonton video dan game di smartphone? Akibatnya tingkat sadar dirinya menurun. Dia koq cuek aja gitu walau dia pup di celana, kejadiannya di sekolah lagi dimana disitu ada teman-temannya. Memang sih, ini juga salah papap tidak secara langsung mengenalkan smartphone semenjak dia masih kecil. Habisnya papap setiap hari harus berkutat dengan smartphone terutama untuk Whatsappan masalah pekerjaan, karena papap kerja di bidang media jadi papap harus online terus. Walhasil Arfa jadi keranjingan nonton Youtube dan download game di Playstore. Dan sekarang adiknya Hanaan (3 tahun) juga sudah mulai ikut-ikutan Masnya, jadinya setiap hari harus rebutan smartphone karena pengen sama-sama nonton tapi yang ditontonnya beda-beda hehe. Memang papap di rumah gak ada TV, tapi tetep aja Arfa mengakses smartphone yang terkoneksi sama wifi. Duh.. papap jadi ikutan stress juga nih 😀 Kalau bisa sih anak-anak memang jangan dulu dikenalkan gadget sejak dini ^^

Terus penyebab lainnya, bisa jadi Arfa mengalami kecemasan di sekolah. Tapi sebenarnya ketika semester pertama di TK, Arfa fine-fine aja lho.. hasil raportnya juga lumayan bagus dan waktu itu mamamnya sempat ngobrol juga sama ibu gurunya dan gak ada masalah apa-apa dalam artian tidak ada laporan bahwa Arfa suka pup di celana sewaktu sekolah.

Nah, baru di semester ke dua ini dan itu juga terjadi mulai sekitar 2 pekan yang lalu.. awalnya dia ngompol dan pup di celana juga di rumah. Waktu itu papap kesel dan mengkel banget, karena Hanaan (3 tahun) adiknya sekarang justru yang malah sudah pintar bisa bilang kalau mau pipis dan pup. Jadi Hanaan sekarang udah jarang banget ngompol dan pup di celana. Koq bisa kebalik gituu.. huhu..

Salah papap waktu itu gak langsung mengdiagnosa, papap cuma memandang kesal sama Arfa sambil membersihkan pupnya.. selalu bertanya dan menyalahkan “Kenapa sih Arfa.. bla bla bla” ngomel.. Ya mungkin papap hanya bisa kesal karena papap juga terkadang stress harus bisa membagi waktu di pekerjaan kantor dan di rumah. Papap di rumah juga bantu beres-beres, nyuci, ngepel, ngurus adik-adiknya Arfa juga yang masih kecil Hanaan (3 tahun) dan Raihanah (10bulan) karena mamam juga sama-sama bekerja ngajar di sekolahan.

Arfa kalau dimarahi dan diomelin hanya bisa diam, natap mata papap sendu (asli papap jadi sedih waktu nulis ini) atau dia nangis dan bilang “Papap tuh gitu..”  jika papap lost control mukul pantatnya. Asli papap sebenarnya gak suka ringan tangan dan pakai kekerasan, papap sayang sama anak-anak tapi kalau pikiran lagi labil, kondisi badan lelah dan penat, ditambah anak-anak rewel papap jadinya suka lost control. Alhamdulillahnya papap selalu mengiringi kesalahan papap dengan meminta maaf sama anak-anak walau tentunya melampiaskan kekesalan kepada anak juga sangat keliru dan akan memberikan dampak negatif pada perkembangan psikis anak. Mungkin para orang tua akan merasakan dilema seperti itu..

Akhirnya papap dan mamam berusaha terus ngorek banyak hal dari Arfa, sebenarnya Arfa sangat suka cerita walau untuk hal sensitif semisal pup di celana dia gak suka bilang dan cerita langsung. Mamamnya sempat kaget juga waktu di kasih laporan sama Ibu Gurunya ditanyain Arfa pulang cerita enggak masalah kemarin? Mamamnya langsung shock dan bertanya apakah karena pup di celana? Akhirnya ibu gurunya membenarkannya, dan langsung deh besoknya mamam ke sekolah dan ngobrol sama Ibu gurunya. Papap juga whatsapp ke Ibu Guru dan meminta maaf sekaligus minta bantuan untuk membimbing Arfa kalau mau pup. Dan terakhir tadi sempat waktu Arfa agak mogok papap tidak hanya ngantar ke depan pintu kelas tapi papap sempat ngobrol dan menitipkan langsung ke Ibu gurunya Arfa. Ibu gurunya si bilang hal tersebut wajar dan bukan hanya Arfa saja yang seperti itu, tapi papap merasa tidak enak jika Arfa terus seperti itu di sekolah dan khawatir jadi bahan olok-olokan teman-temannya.

Tiap berangkat dan pulang sekolah selalu papap nasihatin pelan-pelan untuk selalu bilang sama Ibu Guru kalau mau pup, jangan di tahan-tahan dan jangan pup di celana lagi, sebelum berangkat sehabis sarapan di rumah juga papap selalu ajak Arfa ke kamar mandi untuk pup, tapi statusnya tadi masih pup di celana lagi untung papap bawain baju ganti biasanya kalau Jum’at enggak karena pakenya baju olahraga. Hiks.. papap harus ekstra sabar dan sabar dan sabar teruss… papap do’ain Arfa sembuh dari encropsisnya.

Catatan: Kenapa papap rempong ya? Hehe iya papap sebenarnya sangat rempong dalam hal mengurus anak, bukan karena papap yang ngurus semuanya, tapi mamam kurang suka nulis curcol kaya gini.. kita sudah ada pembagian tugas di rumah dan mamam juga terbatas waktu dan kemampuannya karena bekerja dan mengurus anak yang masih kecil, Raihanah (10 bulan) jadi untuk anak-anak yang udah gede banyak papap handle untuk urusan makan, mandi, antar jemput ke sekolah dll..

Sumber Info dan Gambar : nakita online.

Menghadapi Si Super Aktif

Di sekolahnya Arfa, Papap suka merhatiin temen-temen satu kelasnya. Papap tahu mana anak yang kalem, aktif dan super aktif. Walau kebanyakan anak-anak usia 3-5 tahun itu merupakan anak yang aktif (kalau gak aktif malah curiga ya?:D) tapi sering kita dapati anak yang beda sendiri, misal lebih banyak keluar kelas sendiri, suka ke kantin buat jajan padahal belum istirahat wkwk, tidak bisa diam, sama orang yang tidak kenal juga berani, ketika berkunjung ke rumah kemarin ada anak-anak yang langsung selonong aja terus langsung ngambil mainan-mainan arfa, ngacak-ngacak dsb. Hehe.. namanya anak-anak karakternya beda-beda ya ^^

Sebenarnya papap kurang setuju jika anak-anak disebut sebagai anak yang nakal. Karena pola pikir anak usia 3-5 tahun kan belum sedewasa kita. Kadang dikasi tahu suka ngeyel, dikasi peringatan keras juga gak bisa..bisa jadi anak berontak dan mungkin tambah tantrum. Yah..kita katakan saja anak yang gak mau diem itu si super aktif.

tips-mengatasi-anak-hiperaktifAnak yang super aktif biasanya rasa ingin tahunya besar. Nah, kita jangan selalu menyalahkan si kecil lho. Karena pola asuh pada si kecil juga berpengaruh pada sikapnya. Bisa saja selain aktif, anak ini memang manja dan keinginannya selalu saja dituruti. Jadi dia tidak pernah belajar mengatur dirinya bahwa tidak semua rasa ingin tahunya dapat diwujudkan. Misal, dengan mengacak-ngacak barang orang lain, atau mengambil makanan dan mainan teman satu kelasnya.

Mungkin sebagian orangtua yang kesal dengan tingkah polah anak yang super aktif itu bertindak berlebihan dengan cara mengurungnya saja di rumah, biar dia tidak keluar rumah sembarangan, masuk rumah tetangga tanpa izin, dll. Tapi tindakan seperti ini sama sekali tidak tepat, sebab keingintahuannya semakin dikekang dan anak bisa saja menjadi stress di rumah.

Agar si kecil belajar lebih tertib, tidak mengacak-ngacak barang milik orang lain dan juga tingkah laku super aktif lainnya. Orantua bisa melatihnya di rumah. Mau tidak mau Ibu adalah orang pertama yang bisa melatih anak, karena kebanyakan ibu berada di rumah kecuali jika ibu bekerja mungkin nanti bisa mendelegasikannya kepada pengasuh.

Cara melatih anak super aktif adalah dengan mengajarkan mana benda-benda yang boleh dia acak-acak dan mana yang tidak. Misal di dapur, ada lemari dan laci yang boleh dia bongkar (isi dengan mainan dan alat rumah tangga yang tidak mudah pecah, tidak tajam). Ketika dia ikut ibunya di dapur, dia boleh membongkar lemari dan laci tertentu, namun dilarang membongkar lemari atau laci yang lain. Katakan, Ibu sudah memberi bagian yang boleh dia bongkar dan benda-benda di lemari yang lain tidak boleh dibongkar. Di ruang lain, siapkan kotak berisi barang-barang yang boleh dia bongkar dan larang anak ketika dia membongkar kotak yang lainnya.

Pada intinya, anak diberi kebebasan membongkar atau mengacak-acak, tapi dia belajar mengendalikan diri, tidak semua lemari dia bongkar dan hal ini dimulai dengan pembiasaan di rumah. Anggota keluarga lain, termasuk pengasuh wajib mendukung aturan yang sudah Ibu terapkan pada anak  agar kebiasaan ini berhasil.

Dan ketika pergi ke rumah orang lain, cegah anak saat dia mau membuka lemari atau mengacak-acak barang. Berikan kesibukan lain, contoh dengan memberikan mainan lain dan mengajaknya memainkan mainan tersebut. Dan kita bisa terapkan latihan ini kepada anak secara konsisten selama 2-3 bulan lalu kita lihat bagaimana hasilnya.

Nah, demikianlah sedikit langkah dalam menghadapi si kecil yang super aktif, yang gak mau diem, yang suka ngacak-ngacak barang dll. Hihi.. jadi orangtua memang harus sabar ya ^^

Semoga bermanfaat 🙂

Sumber: nakita