1

Ketika Ekspektasi Menikah Tak Sesuai Dengan Realita

Saat ini aku seringkali mengeluh, kenapa ya aku sekarang tak seaktif dulu? Memang aku sepertinya jadi kaya gak move on ya dari masa lalu.. masa saat aku masih jadi single fighter alias jomblo! Lho, orang mah pengen gak jomblo ya dan menganggap jomblo itu sebuah penderitaan. Tapi memang sih ketika jomblo itu ada asyiknya juga! Asyiknya ya.. kita bisa hidup seenak sendiri tanpa ada banyak tuntutan seperti ketika kita sudah menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga.

Mungkin kita akan sedikit flashback. Dimana aku juga mungkin termasuk salah seorang yang terlalu terjebak dalam keindahan dan ekspektasi tinggi tentang menikah. Sepertinya aku terlalu menelan mentah-mentah bahwa menikah itu jauh lebih enak dibandingkan menjomblo. Ya waktu itu aku memang sudah mengetahui bahaya pacaran. Tapi sebenarnya tanpa membuka aib, betapa aku juga dulu terjebak dalam satu status yang tidak lazim. Yang aku juga gak tahu itu masuk dalam kategori hubungan yang seperti apa? Skip lah ya di bagian ini.

Membayangkan enaknya menikah memang tidak lepas dari input yang kita dapat. Waktu itu, aku terlalu banyak memasukkan keyword “indahnya menikah” di google, kajian-kajian islam, buku-buku islam dan tulisan-tulisan. Jadi penuhlah otakku dengan kalimat “kapan aku nikah?.. kapan.. kapan..” Sehingga dari mulai tahun 2007an sampai 2009 aku galau.. aku mulai memborbardir update status di facebook, kolom komentar dan postingan blog dengan tema “menikah adalah segalanya”.

indahnya-menikah-tanpa-pacaran

Kalau inget itu aku jadi malu sendiri. Mungkin aku yang salah hanya mengedepankan ego semata dan tanpa estimasi yang matang. Mungkin teman-temanku ketika mau menikah sudah kaya mau perang. Mereka siapkan bekal yang cukup, baju zirah yang kuat, ditambah upgrade ilmu dan skill perang yang mantap. Kalau aku.. modal nekad aja huhu. Dan yah, kini aku harus mencari-cari dimana pedang.. dimana perisai.. dimana baju zirah.. bahkan mungkin kini sudah kehabisan bekal.. padahal perang masih lamaa… masih berapa episode lagi kali? Aiih ini film perang apa ya ga habis-habis haha.

Pas emang filosofi menikah dengan berperang. Ya jangan dipikir musuh perangnya itu istri ya! masa istri mau diperangi.. sebenarnya istri dan anak-anak itu adalah tawanan musuh atau ghanimah (harta rampasang perang). Yang diperangi itu ya ego kita, hawa nafsu kita, sifat-sifat jelek kita dan berbagai sikon yang mungkin terjadi di luar dugaan kita. Jadi ketika siap berperang dengan semua itu.. nanti kita akan mendapat kebahagiaan bersama istri dan anak-anak kita. Bahkan mungkin ada yang dapat ghanimahnya gak cuma 1 bisa aja 2, 3 atau 4.. istri atau anak nih? ya maunyanya aja yang mana.. 4 istri kan maksimal kan ya :D

Berbicara ekspektasi ya sebenarnya sah-sah saja. Tapi menurutku jangan terlalu tinggi.. seakuratnya estimasi kita tentang perhitungan dunia. Ya bisa dikata mumpuni lah dari sisi harta. Tapi ketika berumahtangga pasti lingkup pembahasannya bukan hanya mencukupi nafkah lahir. Ada banyak hal yang terjadi, dan itu diluar dugaan kita lho! Misal dulu bisa saja istri kita yang sebelumnya polos, manis, nurut, pokoknya idaman banget lah. Eh pas udah nikah koq bisa jadi berubah yaa? Bukan hanya berubah fisik tapi bisa saja berubah perangai haha. Ya ini bukan nakut-nakuti lahh.. tapi bicara fakta aja dan tidak menyamaratakan semua wanita kaya gitu. Yang shalihah buanyak dan juga kadang tergantung kita sebagai suami yang mengarahkannya. Tapi manusiawi banget lho.. apalagi udah ada anak, 1,2,3,4 kaya aku hihi.. kayanya udah padat banget hari-hariku.. dan aku udah gak ada waktu lagi buat nulis postingan-postingan gak jelas kaya waktu bujangan dulu..

Jadi aku pesankan untuk adik-adikku, teman dan sahabat yang saat ini mungkin merasa merana banget ya karena masih jomblo. Nikmati dulu lah kejombloan ini..! Kadang aku juga pengen jomblo lagi. Tapi sehari aja. Beri aku waktu untuk sendiri. Hahay. Aku juga emong sih jomblo terus, walau di rumah udah kaya di pasar tapi tetap aja bikin kangen. Sebenarnya mungkin aku hanya butuh piknik dan refreshing. Tapi entah aku juga kadang gak tahu pengen piknik kemana dan refreshing dimana.. karena aku tidak bisa bilang ke anak-anak.. aku mau pergi ke masjid sama ke kantor aja anak-anak ribut maunya ikut terus haduh aku stress banget pokoknya wkwk.

Pokoknya selama jadi jomblo, jadilah jomblo yang keren dan selalu bersikap elegan. Kalau bisa jadi jomblo kaya dulu. Yah minimal walau seperti yang aku katakan ekspektasi indahnya menikah tak seindah yang dibayangan, tapi kalau masih punya duit gak akan menderita dan desperate banget. Kaya aku saat ini.. lagi stress banyak pengeluaran dan gajiku di awal bulan sudah minim banget.. alamat kupingku akan panas disindiri istri dan harus memutar otak lebih keras mencari recehan haha! koq curhat sih?

Bookmark this on Delicious
Bookmark this on Yahoo Bookmark

papapz

Kang Ian a.k.a Papap. Sudah lama jadi blogger, ingin jadi parenting blogger tapi selalu sok sibuk. Ujung-ujungnya malah curhat di blog :P

One Comment

  1. betul sekali, kang. saya setuju anak & istri adalah teammate kita. adapun musuh kita adalah ego kita masing-masing. jadi sebelum menikah, harus tahu seni berpasrah; sadari bahwa realita itu lain hal dengan ekspektasi.

    tapi kalo saran ini didenger sama anak muda usia 20an yang kebelet nikah lantaran niatnya cuman pengen ngehalalin tok dan latah ngeliat foto pernikahan temen-temennya yang instagramable, paling jadi angin kentut yang menurut mereka bau dan berlalu gitu aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *