Jangan Bilang Papap Nakal..

Mau gak mau, tingkah laku anak tidak akan pernah beda jauh dari orang tuanya. Kalau pepatah bilang “Buah Mangga tidak akan pernah jatuh, jauh dari pohonnya“. Itu artinya, semua tingkah laku anak adalah sebuah pencerminan dari apa yang anak lihat dan contoh dari lingkungan di sekitarnya, salah satunya adalah dari kedua orang tuanya.

Waktu kecil dulu, masih terekam di memori saya tentang beberapa gambaran pola pendidikan Ayah terhadap Saya. Ayah Saya sedikit otoriter, dan seringnya selalu ada perasaan takut ketika Saya harus berhadapan dengan Ayah, apalagi dulu ketika kecil Saya lebih banyak dekat dengan Ibu dibanding Ayah yang jarang ketemu karena selalu pergi merantau.

Imbasnya, Saya tidak terlalu dekat dengan Ayah dan hingga kini pun serasa gimana yah.. Agak canggung dan tidak terlalu dekat untuk lebih banyak berbagi cerita, walau tentunya hingga sekarang hubungan Saya dan Ayah masih terjalin dengan baik walau tidak terlalu sering bertemu. Dari dulu bahkan hingga sekarang, banyak masalah Saya pendam sendiri dan selalu Saya simpan entah untuk siapa. Saya jarang berbagi masalah dengan orang tua, kecuali berbagi berita bahagia yang tentunya akan membuat mereka pun ikut merasakan kebahagiaan tersebut. Tapi beranjak dari itu pula, ketika kini Saya menjadi seorang Ayah, Saya tentunya ingin mengubah image figur Ayah Saya dulu dengan figur seorang Ayah yang baik dan dekat dengan anak-anak.

Menjadi figur seorang Ayah yang baik memang bisa dibilang perlu usaha yang cukup keras dan juga pengorbanan yang cukup besar. Mungkin Anda seringkali terperangkap dengan Istilah baku “Ayah pergi mencari nafkah, dan Ibu mendidik anak di rumah“.  Istilah ini memang benar adanya, namun juga jangan sampai salah difahami menjadi sebuah keharusan yang menjadikan tidak adanya usaha bagi seorang Ayah untuk ikut berperan serta dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya.

Mencari nafkah memang nomor satu lho.. Tapi konsen dalam pendidikan anak juga harus menjadi prioritas utama bagi seorang Ayah. Ayah tidak perlu sedetail Ibu di dalam mengurus dan mendidik anak, tapi Ayah juga harus senantiasa ikut mengontrol dan memonitor sejauh mana pertumbuhan dan perkembangan anak setiap harinya. Ayah bisa menjadi figur yang baik yang nantinya akan menjadi contoh yang baik pula untuk anak. Ayah bisa menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam batasan sejauh kemampuan anak di dalam menerima setiap pengajaran yang kita berikan. Tidak perlu memberikan kuliah atau ceramah panjang lebar, sebaliknya Ayah bisa memberikan langkah-langkah produktif yang bisa langsung dicontoh dan difahami oleh anak. Misalkan, kita tidak perlu memberikan ceramah panjang lebar tentang bagaimana seharusnya beretika dan sopan santun, namun kita bisa langsung mencontohkannya, misalnya dengan memberi salam dan mencium tangan kakek dan neneknya ketika mereka bertemu. Ini akan lebih difahami dan langsung dipraktikkan anak dibanding memberikan pengajaran secara lisan saja.

Sedikit cerita tentang Arfa, anak pertama Saya. Usianya kini mendekati 4 tahun (tepatnya 3 tahun 8 bulan), Saya seringkali menemukan sikap dan tingkah laku Arfa mirip ketika Saya waktu kecil. Kalau inget Arfa suka ngamuk kalau keinginannya gak cepat dituruti, Saya seringkali flashback dengan kondisi Saya dulu seumuran Arfa. Pernah waktu habis dari pasar, Saya ingin dibelikan mainan dan Saya sampai ngamuk-ngamuk gak mau pulang sebelum dibelikan sama Ibu. Itu sedikit gambaran masa kecil yang masih tersimpan dalam benak Saya.  Dan Saya terkadang tersenyum sendiri membayangkan kini harus menghadapi siklus berulang yang menimpa Saya dan Arfa.

Sekarang jika Saya tidak menuruti keinginan Arfa, dia selalu bilang “Papap tuh nakal..!” Hmm entah darimana dia dapat kata-kata itu. Begitu juga jika dia berantem sama adiknya hanaan yang baru berusia 1 tahun 5 bulan.. dia juga suka bilang “Dede tuh nakal..!” Saya suka nanya ke Arfa, “Nakal” tuh apa sih? Arfa sepertinya bingung mendeskripsikannya, mungkin simpelnya nakal itu kalau papapnya gak nuruti keinginannya atau ketika adiknya mengganggunya atau merebut mainan/makanannya.

Saya banyak melihat anak-anak nyeletuk tentang sesuatu yang dia sendiri gak tahu artinya, mereka banyak meniru dari teman sebayanya lalu dia aplikasikan sendiri di rumah kepada saudara atau bahkan orang tuanya. Saya tidak marah dengan kata “Papap nakal itu..” Saya tahu Arfa hanya sedang mengekspresikan perasaannya dan memang tugas orang tuanyalah yang harus membantu dia dalam meluruskan sesuatu yang tidak pada tempatnya tersebut.

Apakah Anda seringkali merasakan hal seperti ini? Jika Iya, sepertinya kita harus lebih banyak sabar dan beristigfar ^^ karena mau tidak mau saat ini kita sedang flashback dan mengalami siklus berulang. Jangan sampai lho ini juga akan berulang sampai ke generasi berikutnya. Menjadi Ayah yang baik memang tidak mudah.. Oleh karena itu, bantu Papap ya anak-anakku sayang agar Papap bisa jadi Papap yang baik untuk kalian. Say “Papap Hebat” ya and don’t say “Papap Nakal” ^^

Salam 🙂

4 Replies to “Jangan Bilang Papap Nakal..”

  1. Mungkin memang gaya mengasuh beda jaman. Bapakku dulu juga terlalu tegas, kami deket sih, tapi nggak bisa nemplok kyk anak2ku sekarang sm bapaknya. Bersabar, dan merendahkan bahasa agar selevel dg mereka. Suamiku membaur dg anak2 sambil memasukkan hal2 baik, termasuk main boneka krn anakku cewek2. Sekarang anak2 sdh remaja & tetap bisa nempel ke bapaknya, tdk spt aku sm bapakku yg diberi jarak oleh rasa segan.

    1. iya bener sama koq mbak kaya saya dulu.. jadinya sekarang saya gak mau menciptakan ayah yang galak terhadap anak-anak 🙂

  2. bener banget, kang. sekarang saya mulai jaga kelakuan, dan mempersiapkan diri juga kalo melihat ada sosok diri saya pada kepribadian anak-anak saya kelak. jangan sampe marah-marah deh dalam menghadapinya nanti. karena anak bagaimanapun asalnya dari darah kita juga ya kang. kalo emosi sama anak, sama aja dengan merutuki kelakuan diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *