6

Hanya Orang Tua Yang Salah

Ketika sudah menjadi orang tua, terasa begitu beratnya bagaimana mendidik anak. Kalau mengingat usia yang belum merasa tua (27 tahun :D) kini saya berstatus sudah mempunyai satu istri, anak laki-laki berusia 2 tahuh, dan calon anak ke-2 yang sekarang masih di kandungan mamamnya usia 6 bulan.

Gak pernah kepikiran juga mau cepet punya anak. Istri ketahuan hamil setelah kita menikah 5 bulan, lalu hamil lagi (insya allah) anak yang ke-2 ketika anak pertama berusia belum genap 2 tahun. Ajaib lah.. ini semua adalah karunia Allah, walau jujur saya suka lupa juga akan segala nikmat-Nya.

Ketika kini mempunyai anak, saya merasa jadi seorang Ayah itu gampang-gampang susah. Mungkin Bapak saya dulu ngerasa capek juga kali ya mendidik dan membesarkan saya? Ah..terkadang baru kepikiran juga dan nyadar sekarang! Kalau ngedidik anak itu susah kalau memang udah punya anak sendiri.. Kerasa gitu loh susahnya, repotnya, apalagi kalau anak udah rewel, nangis, dan gak mau dibilangin. Kadang pengen dijewer, kadang pengen dicubit, tapi kalau udah gitu melas juga, kasian.. melihat tampang polosnya, tanpa dosa, dan dia hanya ingin cari perhatian orang tuanya saja yang biasanya sudah mulai kecapean dan gak mau diganggu.

Kalau ada orang tua yang bilang sama anaknya “Kamu anak durhaka.. gak berbakti.. gak nurut sama orang tua” Maka kadang saya suka mikir, itu orang tuanya udah bener belum ngedidik anaknya, udah ngajarin belum sopan santun, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya. Ini kan tugas orang tua sebelum si anak gede dan mulai mengenal dunia luar sebebas-bebasnya.

Mari kita pikirkan.. anak yang polos tanpa dosa, dia belum tahu apa-apa tentang bagaimana membentak, bagaimana ia mencaci, berbohong, memukul dan kejelekan yang lainnya. Ia hanya mencontoh dari orang di sekitarnya, lalu kita akan menyalahkan anak? Seharusnya kita lah yang salah.. Hanya orang tua yang salah.. membiarkan mereka mencontoh kejelekan orang tuanya, menelan mentah-mentah bentakan, cacian dan makian orang tuanya, merasakan dalam diam dan tangisnya ketika dia dijewer, dicubit, dipukul bahkan ditendang orang tuanya. Lalu apakah anak akan menjadi baik dengan pola asuh yang seperti ini? Hendaknya orang tua introspeksi diri agar dia tidak serampangan memberikan laknat dan menggelarinya anak durhaka, padahal orang tua sendiri telah durhaka pada anaknya sebelum si anak berbuat durhaka terhadap orang tuanya.

Anakku Sayang.. Maafin Papap ya nak!

Bookmark this on Delicious
Bookmark this on Yahoo Bookmark

papapz

Kang Ian a.k.a Papap Arfa. Bekerja sebagai Manager Station Radio Kita FM Cirebon, merangkap sebagai penyiar juga. Bercita-cita ingin menjadi pelopor blogger yang mewakili kalangan suami dan ayah.

6 Comments

  1. Wah sebentar lagi udah punya malaikat 2 orang nih Papz,
    Selamat ya, dan terus diberi kesabaran dalam mendidik si kecil.

  2. mur saya 24 skrg. Dr kecil saya sudah biasa dipukul baik ayah maupun ibu. Saya sedih ketika ingat, saya sudah berpikir utk bunuh diri di kelas 6 SD. Ayah dulu yg sering membela, hingga skrg masig suka kasar ngomongnya. Dulu SMA sy pulang jam 9 biasa plg les jam 8, padahal nemenin temen ke toko buku (saya ga pernah dugem seumur hidup) dibilang lonte, kecentilan… dan saya dipukul dengan ikat pinggang sampai gemetaran. Sejak itu dgr org bentak hingga kuliah s1 saya tinggal d kost tdk trauma lg. Dr kecil dijambak, dicakar, dijewer, dicubit sampai biru.., dan trnyata itu jg dialami teman2 sy yg anak sulung perempuan. Kebetulan kah?

    • saya ikutan miris membaca ini, memang sudah pasti akan menimbulkan trauma mendalam ya di hati setiap anak yang diperlakukan dengan kekerasan. Semoga orang tuanya taubat dan bisa memperbaiki diri dan semoga setelah mempunyai anak nanti akan menjadi ortu yang baik dan tidak mengulangi seperti yang dilakukan oleh ortu kita dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *