Jangan Kesal Dengan Tingkah Laku Anak!

Yang namanya anak-anak pastilah tingkah lakunya macem-macem. Ada yang nyenengin, bikin gemes, bahkan bisa bikin kesel. Apalagi buat anak yang sudah mulai aktif, seperti anak saya yang akan menjelang usia 2 tahun. Banyak orang yang mengatakan bahwa “buah mangga tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”, dan mungkin saja banyak dari tingkah laku anak juga yang diturunkan secara genetik dari orang tuanya πŸ˜€

Menyikapi anak yang sudah mulai aktif memang harus telaten dan ekstra sabar. Dilembutin dia biasanya akan tetap kaya gitu tapi kalau dikerasin dia akan berontak dan malah tambah heboh. Jadi kita harus ambil sikap pertengahan, yaitu tetap lembut tapi jangan dimanja dan tegas tapi tidak dengan kekerasan. Sebagian orang tua karena tidak ingin membuat anaknya menangis akhirnya menuruti semua keinginan anak dan membiarkan dia berbuat semaunya. Tapi ada juga orang tua yang saking ingin melindungi anaknya dan ingin agar si anak diam dan tidak melakukan banyak hal akhirnya malah mematikan kreatifitasnya dengan melarang semua kegiatan si anak bahkan tak jarang dengan bentakan dan sikap kasar sehingga si anak malah takut untuk mencoba segalanya. Ini juga sebuah sikap yang kurang tepat tentunya.

Sebagai orang tua seharusnya kita bisa menjadi partner si kecil. Mau tidak mau, si kecil sedang mengalami perkembangan dan ingin selalu bereksplorasi. Jadi jangan pernah terlalu kesal dengan tingkah laku anak yang mungkin sedikit heboh. Anak seusia Arfa yang sangat aktif dan ingin mencoba berbagai hal, dia sudah mulai mengenal arti sebuah pertemanan dan selalu ingin bermain dengan teman-temannya, dia mulai mengenal mainan kesukaan, dia sudah mulai mengerti berbagai perasaan orang tuanya dan dia sebenarnya sudah bisa diajak berkomunikasi layaknya seorang teman bagi orang tuanya karena dia sudah banyak mengenal lingkungan sekitarnya dan orang-orang yang berada di dekatnya.

Saya suka menasihati istri saya agar tetap lembut sama Arfa walau tingkah lakunya kadang bikin kesal, dia selalu maksa kalau ingin sesuatu, misal ingin keluar bermain dan membeli sesuatu sementara istri saya kondisinya sedang labil baik fisik dan psikisnya karena ngidam, akhirnya kadang suka gemes dan marahin Arfa. Kalau digituin Arfa pasti nangis dan kadang tak jarang suka balik mukul sambil masang wajah kesal juga. Kalau sudah gini, biasanya saya yang akan mengambil alih peran untuk mengasuhnya dan mengajaknya bermain. Tapi repotnya kalau pas saya kerja dan istri sudah mulai kewalahan, nah gimana tuh? πŸ˜€

Tapi sebenarnya wajar juga sih, kalau orang tua sesekali kesal dan mungkin tegas sama anak jika tingkah laku anak sudah kelewatan dan susah diomongin. Ini juga sebagai pelajaran bahwa si anak tidak bisa berbuat semuanya dan mengajari anak agar tidak dimanja. Apalagi bagi saya dan istri yang sama-sama kerja, kondisi lelah berpadu dengan rewelnya anak akan membuat situasi memanas akhirnya yang muncul adalah marah-marah sama anak. Hmm.. kasian juga sih biasanya kalau kelepasan marah sama anak, biasanya saya dan istri akan memeluk dan menciumnya terus minta maaf dan selalu bilang “Papap dan Mamam sayang banget sama Arfa..” Walau anak sebenarnya akan mudah melupakan kemarahan kita, namun hal itu bagus untuk memberikan perasaan kasih sayang sebagai penghapus sikap kesal kita. Karena sudah pasti besok-besok pasti akan gitu lagi, anak rewel dan orang tuanya akan kesel dan marah lagi wkwkw.

Nah, kesimpulannya adalah bahwa pada dasarnya sikap proporsional dalam menyikapi tingkah laku si kecil sangatlah penting. Kesal pada anak wajarlah.. manusiawi banget bukan? Apalagi tingkah laku setiap anak berbeda-beda. Ada yang selalu bersikap manis dan selalu nurut, ada yang biasa-biasa saja, dalam artian kadang bersikap manis tapi kalau udah dihadapkan dalam situasi yang tidak nyaman dia akan rewel juga, ada yang hyper aktif bahkan ada yang bandel, jail dan istilah sejenisnya yang mencerminkan kondisi anak yang sulit diatur dan semaunya sendiri :D. Tentunya gak wajar juga kan kalau anak selalu bersikap manis tapi kita tetep kesel sama anak? Namun tentunya bentuk kekesalan pada anak jangan sampai kita malah menyakiti fisik dan psikis anak. Segimana bandelnya anak, tetap saja penyikapan kita berbeda. Tetap nasihati anak dengan lemah lembut dan terus arahkan anak pada kebaikan. Karena pada dasarnya fitrah anak adalah lurus, bagaimanapun orang tua lah manusia pertama yang akan memberikan bimbingan dan pendidikan pada anak. Tetaplah menjadi orang tua yang memberikan contoh yang terbaik untuk anak kita, selamat mencoba!

10 Replies to “Jangan Kesal Dengan Tingkah Laku Anak!”

  1. manusiawi sih kalau sebagai orangtua suka kesal dengan anak. apalagi kalau anak lagi rewel-rewelnya. Anggap aja ujian kesabaran buat orang tua. asal jgn sampai menyakiti apalagi melukai anak πŸ˜€
    Apa kabar ma PAPS?

  2. semangat papap. istri hamil lagi? sama kayak istriku donk kalau gitu. anak beranjak mau 2 tahun, hamil istri sekarang menginjak 5 bulan :D. harus sabar emang mendidik anak yang pasti jangan sampai pake kekerasanΒ 

    1. alhamdulillah baru dapat 2 bulan.. hehe ada temennya lagi kang πŸ˜€ yups bener banget kita juga gak ingin kan dikerasi.. apalagi anak-anak kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *