Benarkah Para Suami Itu Takut Pada Istrinya?

Ada satu ledekan yang menggelikan di tempat saya bekerja, dimana ledekan ini hanya untuk karyawan yang sudah punya istri. SUSIS! Yep, alias Suami Sieun (Takut) Istri. Kata-kata SUSIS memang ditrendkan oleh Sule dalam lagu konyolnya, namun kata-kata SUSIS ini seakan menjadi salah satu ledekan wajib diantara kami khususnya diantara para petinggi di kantor saya.

Walaupun masih memiliki satu istri, namun seringnya teman-teman saya ini selalu heboh menceritakan istrinya. Terutama ketika teman-teman ini (maksudnya para atasan saya, Direktur, Staff Sekretaris Yayasan, Para Kabid – saya sudah menganggap beliau-beliau ini sahabat dekat saya walau udah pada senior ) akan melakukan perjalanan dinas atau acara beepergian yang memakan waktu yang cukup lama, misalnya seharian minimal dari pagi sampe sore. Pasti deh ada aja yang beralasan gak bisa ikut karena kasihan sama istri kalau ditinggal beberapa hari, harus nganter istri ke tempat anu, istri lagi sakit dan lain-lain. Hal inilah yang sering dijadikan bahan ledekan buat yang gak ikut, bahwa yang gak ikut pasti deh suami yang SUSIS wkwkw.


susisSo.. pada faktanya apakah benar para suami itu takut pada istrinya? Terlepas dari ledekan teman-teman saya yang pada faktanya memang cuma guyonan, karena sedikit sekali istri yang memiliki karakter galak dan ditakuti hahaha. Sebenarnya kewajiban suami lah yang harus ngemong istri, ngejaga istri, dan mencoba memberikan yang terbaik untuk istri dan keluarganya.

Terkadang saya juga sebenarnya suka malas sih jika diajak ikut bepergian bersama teman-teman saya ini, di satu sisi saya inget sama istri yang harus dijemput setelah dzuhur, inget sama Afa yang harus dimongmong jika istri baru aja datang dari sekolah, dan beberapa pekerjaan rumah lain yang harus dikerjakan karena maklum saja saya gak punya asisten rumah tangga. Namun di sisi lain saya juga gak enak untuk nolak intruksi atasan yang harus mewakili beliau dari unit kami untuk ikut ta’ziyah, nengok yang sakit dan kegiatan yang lainnya. Kalau dipikir senengnya sih seneng aja, wong pergi-pergiannya naik mobil dan ditraktir makan juga 😀

Nah, jadi jika pada kenyataanya adalah bahwa peran suami memang dibutuhkan lebih dari hanya sekedar bekerja dan mencari uang, misal suami harus bantu kerjaan rumah, istri suka diminta antar jemput ke tempat-tempat yang lumayan jauh, atau sekedar diminta belanja ke warung karena istri repot lagi mongmong anak sambil masak. Maka pada sejatinya, hal tersebut wajar dan bukan salah satu indikasi suami takut pada istrinya. Namun itu adalah salah satu tanda bersinerginya suami dan istri untuk sama-sama dalam melaksanakan tugas dan kewajiban dalam rumah tanggga. Coba kalau suami cuek aja dan acuh tak acuh jika kondisi istri lagi sakit, anak juga rewel, rumah berantakan dan tidak ada makanan di rumah. Maka apa yang akan terjadi? Justru sebagai suami lah yang nanti akan disalahkan. Soo.. mengambil sebagian peran istri itu bukan suatu kehinaan jika memang istri meminta bantuan suami dengan sopan dan suami pun mengerti dan ikhlas untuk membantu mengurangi kerepotan istrinya.

Stigma suami takut istri memang seringkali dibuat nyeleneh seperti di sebuah komedi situasi dengan judul yang sama “Suami-Suami Takut Istri” yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta. Saya juga gak setuju dengan sikap para suami yang ‘ndablek’ ini. Pantas kan jika para istri melakukan manuver untuk bisa lebih menguasai suaminya, wong para suaminya aja begitu.. mata keranjang, suka boongin istrinya, males dan sikap-sikap jelek yang lainnya yang ditampakkan pada para istri. Hmm jika para suami seperti itu, saya yakin para istri juga kesal dan akan berusaha untuk menaklukan suaminya yang bandel ini. Hehe.

Soo.. pada kesimpulannya. Tidak ada sebenarnya slogan “Suami takut istri“, yang ada adalah suami yang sayang istrinya, yang ingin menjaga dan meringankan beban istrinya, kalau dipikir-pikir jadi suami itu bebannya sedikit loh dibandingkan para istri, apalagi istri yang pure jadi ibu rumah tangga aja. Kebayang kan repotnya di rumah harus beres-beres dan juga ngurus anak-anak. Kalau suami terkadang bisa sambil refrehing di tempat kerja hehe.

Yuk ah jangan jadi SUSIS, mending makan SOSIS aja 😀

13 Replies to “Benarkah Para Suami Itu Takut Pada Istrinya?”

  1. yg takut istri beralasan krn sayang istri…kesimpulannya beda tipis antara takut dan sayang…knp kok hanya suami yg nurut ngalah sehingga beralasan krn sayang istri ???…kok knp tdk sebaliknya…bukankah hrsnya istri yg nurut dan taat patuh pada suami sebagai kepala rumahtangga jg pencari nafkah keluarga…semua sdh ada beban tugas dan kewajiban masing2…

  2. wkwkwk SUSIS emg ada kok, teman saya, sampe acara pernikahan smua fine2 aja.. skrg boro2 mau kumpul.. chat aja ga di bales.. selamat menempuh hidup baru yg lama sudah lupakan saja 😀
    realitanya suamiistri salah kaprah ttg rasa syg, rasa syg itu saling membahagiakan bukan memaksakan kebahagiaan kpd pasangan 😀 hrsnya tau hidup bukan cm ber 2 aja 😀 trs kalau pasangan hidupnya tiada mau ikutan tiada jg?

    1. wkwkw jangan terlalu posesif ya.. harusnya ngalir aja. Saya tidak takut sama istri cuma saya meminimalisir pertengkaran aja jadinya lebih baik ngalah ^^

  3. setuju [asmie angkat tangan]..!!
    yang ada suami sayang istri, dan sebaliknya istri sayang suami.. 😀

    #mas..mas gak ada stock satu lagi ya suami seperti mas. asmie mau dunk ha ha ha#

  4. meskipun blm berkeluarga tp saya setuju mas dengan opini mas..
    bukan takut tp sayang dan ingin menjaga keluarga.. tp sesekali boleh lah ikut jalan sama teman-teman.. yg penting seimbang 😀

  5. setuju mas, laki-laki tidak ada yang takut pada pasangannya, laki-laki hanya menurut pada pasangannya karena ingin meringankan beban pasangannya bukan karena laki-laki lemah dan takut pada pasangannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *