Inilah Cara Ayah Mengisi Waktu Akhir Pekan Bersama Keluarga

Hai, teman papapz semuanya.. Semoga kalian tetap sehat dan semangat ya.

Sudah ketemu akhir pekan lagi nih! Dan, kini tiba waktunya kita untuk liburan. Apa rencana para ayah sekalian? Jalan-jalan, jalanin hobi, atau mager di rumah aja?

Wah, jangan sampai akhir pekan kita berlalu begitu saja yah! Memang sih, kita suka merasa cape dan lelah dengan berbagai aktivitas harian. Ada ayah yang bekerja di kantor, ayah yang bekerja di lapangan, ayah yang menjalankan bisnis atau ayah yang di rumah aja. Eh kan ada yang lagi WFH (work from home) juga kan yaa hehe. Tapi, jangan sampai akhir pekan malah jadi membosankan bagi keluarga kita. Karena Ayah suka cuek sama mereka di akhir pekan.

Anak dan istri kita, walau bagaimanapun tetaplah menjadi prioritas kita lho.. tidak hanya dalam urusan nafkah lahir nya. Tapi juga nafkah batinnya lho! Eh btw, nafkah batin kan bukan hanya hubungan pasutri ya hehe. Tapi juga berbagai macam sarana untuk memberi mereka kebahagiaan. Nah, perasaan bahagia kan merupakan salah satu pemenuhan kepuasan batin juga kan?

Sebenarnya, Ayah tidak perlu pusing deh dengan datangnya akhir pekan. Harusnya Ayah seneng lho karena kita bisa banyak berinteraksi dengan anak dan istri kita. Apalagi di zaman pandemi sekarang kan ya? yang kita dihimbau untuk banyak di rumah daripada keluyuran gak karuan hehe.

Ketika datang akhir pekan, Ayah bisa ajak deh kumpulin tuh anggota keluarga. Tanya mereka satu satu kira-kira akhir pekan ini mau ngapain aja yaa? Barangkali bingung kalau nanya mau kemana? khawatir jawab mintanya ke bali! hihi.. kan kejauhan ya?

liburan-bersama-keluarga

Nah.. setelah musyawarah. Tentuin deh sama Ayah kita mau ngapain aja akhir pekan ini! Apakah mau keluar atau tetap di rumah aja? Jika mau keluar, tentukan dong mau kemana.. dan ketika akan di rumah aja, harus ditentukan juga di rumah ngapain aja? Jangan bikin keluarga kita juga jadi ikutan mager ya hehe.

Sebenarnya, jika kita bisa tetap menjaga protokol kesehatan kita tetep bisa sih keluar rumah asal tetap aman aja. Mungkin kita bisa rencanakan pergi kerumah kakek dan nenek? Atau ke tempat wisata yang jarang pengunjungnya. Mungkin bingung juga ya? Ya.. kita searching dulu deh gak usah yang jauh-jauh.. yang deket-deket aja. Misal jarak tempuhnya cuma 1 jam perjalanan naik mobil pribadi. Nah gak kejauhan dan gak bikin bete juga kan ya? Usahakan aja jalannya ke tempat wisata di alam terbuka, misal ke danau, bukit, atau spot spot yang memanjakan mata kita. Soalnya kalau kaya ke wahana wahana gitu kayanya gak luas juga ya. Jadi sebisa mungkin kita masih bisa banyak menjaga jarak dengan yang lainnya.

Nah, jika sudah ketemu tujuannya. Siapkan deh segala sesuatunya, dan lets goo.. jangan kebanyakan bengong juga ya hihi. Enjoy dan nikmati akhir pekan ayah dengan keluarga.

Siiip..

Lalu kalau pengennya di rumah aja gimana dong pap? Hmm gampang juga sih.. lebih gampang malah karena gak akan ngeluarin budget yang gede untuk tetap asik di dalam rumah. Mungkin kita bisa rencanakan pesta kecil di rumah, misal pesta barbeque.. atau semisal yang lainnya. Sambil bikin games-games seru sama anak-anak. Jadi mereka juga gak bete. Yang penting stock konsumsi melimpah dong yaa haha so usahakan dulu belanja berbagai jenis makanan dan minuman agar kita tetap asik di dalam rumah. Karena menurut papap itu deh yang paling penting wkwkw.

Nah, selain ngadain pesta kecil seru bersama keluarga. Kita juga bisa mengisi akhir pekan untuk menjalankan hobi bareng bersama keluarga. Misalnya apa ya? mendekor ulang rumah? atau berkebun dan yang lainnya. Nah, intinya tetap usahakan ada kegiatan seru yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Sehingga mereka pun seneng dan bahagia karena bisa menikmati akhir pekan bersama Ayah dengan asik dan fun.

Nah Yah.. Gimana? Simpel kan sebenarnya dan gampang banget untuk mengisi akhir pekan seru bersama keluarga? Jangan lupa dicoba yaa..

Salam hangat dari papapz

kredit gambar: https://www.finansialku.com/wp-content/uploads/2013/09/beach-silhouette.jpeg

Buat Perjanjian Waktu agar Anak Tidak Kecanduan Internet

Hai sobat papap dimana saja berada. Suka merasa pusing gak, jika anak-anak sudah mulai terpapar dan kecanduan internet dan gawai? Kalau iya, sama dong hehe. Fenomena kecanduan internet pada anak-anak kian marak dalam beberapa waktu terakhir lho, apalagi selama pandemi Covid-19. Akibat kecanduan internet, anak-anak jadi malas belajar dan kesehatan, baik fisik maupun mentalnya, ikut terpengaruh.

So.. gimana dong caranya agar anak-anak tidak terus terusan mengakses internet? Padahal mungkin kebanyakan dari mereka hanya mengakses video di youtube atau bermain game online. Nah, salah satu cara untuk mengatasi anak kecanduan internet ialah dengan memberi mereka batasan waktu. Berlakukan batasan waktu bagi anak-anak dalam mengakses internet.

Dalam hal ini, perlu diingat bahwa orang tua atau wali memegang peranan penting dalam mengatasi kecanduan internet anak-anak. Karenanya, mereka diharapkan bisa dengan jelas memberikan batasan waktu bagi anak-anak untuk mengakses internet.

Jadi, sebelum memberikan gawai atau fasilitas mengakses internet sebaiknya orang tua membuat kontrak dengan anak untuk akses penggunaan internet. Misal, boleh akses berapa lama, jika mengakses berlebih sanksinya apa.

Terus cara berikutnya, memberi pengertian kepada anak soal alasan pembatasan penggunaan gawai dan internet. Berikan penjelasan dampak negatif yang didapat saat kecanduan internet, seperti munculnya masalah kesehatan mata, saraf, bahkan alami depresi.

Langkah lain yang bisa dilakukan ialah dengan memberikan anak-anak kegiatan alternatif selain internet. Misalnya, dengan memfasilitasi kegiatan sesuai dengan hobi atau kesukaan anak-anak yang sebisa mungkin tidak menggunakan internet.

Sebagai orang tua kita bisa mengalihkan perhatian anak kepada kegiatan lain yang positif atau bermanfaat. Memang sih ini merupakan tantangan terberat bagi orang tua. Apalagi jika kita juga masih sibuk bekerja. Tapi semoga sobat papap semuanya tetap semangat ya dalam membimbing anak-anak, apapun kondisinya. Salam ^^

Credit
Sumber tulisan: https://republika.co.id/berita/qiugb7414/atasi-anak-kecanduan-internet-dengan-buat-perjanjian-waktu
Sumber gambar: https://newsmedia.co.id/cp-pub/uploads/images/post/2018/06/internet.jpg

Cara Membesarkan Banyak Anak Tanpa Stress

Huaa, selalu gagal untuk semangat nulis di blog inih. Padahal ini adalah blog papap yang harusnya jadi diary sesungguhnya dibanding harus curhat di status whatsapp atau facebook hehe. Banyak alasan untuk malas nulis, malas mikir, malah berkreasi dan berinovasi. Ahh.. kadang kesal sama diri sendiri. Selalu merasa menjadi orang yang paling sibuk di dunia. Padahal mungkin masih banyak yang lebih sibuk daripada papap.

Gaess.. Gak berasa bulan ini blog papapz.com akan menginjak usia yang ke-7. Selisih satu tahun sama usia si sulung yang di bulan Februari ini menginjak usia ke-8. Tapi kenapa masih segini-gini aja yaks haha. Bener dah malas akut.. selalu kebanyakan berekspektasi tapi kurang aksi yang ada jadi selalu gigit jari huhu.

Gaess.. banyak orang yang merasa stress karena udah lama nikah tapi gak juga dikasi anak sama Alloh. Perjuangan sampe berdarah-darah, sampe ngeluarin uang banyak untuk terapi, beli obat, minum ini itu, olahraga, makan toge banyak-banyak (lho? :D) tapi qodarullah-nya Alloh belum juga ngaruniain anak. Padahal kalau dipikir-pikir, apa susahnya ya bikin anak? Sama kan ya caranya? Hihi.. tapi ternyata kita salah besar ya gaess.. Kadang urusan satu ini suka tidak bisa diterima akal logika. Contoh kecilnya, setelah diperiksa suami istri sehat semua, tidak ada yang aneh tapi koq lambat dapat keturunan? ujung-ujungnya sih kita harus banyak berdo’a dan tawakal gaess.. gak ada yang ngalahin kekuatan dan dahsyatnya do’a. Dan tak lupa perbanyak istighfar dan sedekah. Weleh udah kaya pa ustat xixi.

Beneran gaess.. papap dulu gak nyangka juga akan diamanahi 4 anak dalam rentang usia pernikahan 9 tahun. Oke kita coba rinci ya historinya:

  • Desember 2010 papap dan mamam nikah.
  • Februari 2012, lahir si mas. Anak pertama (cowok). usia 8th
  • Juni 2014, lahir babang. Anak kedua (cowok lagi). usia 5th 8 bln
  • Juni 2016, lahir kaka. Anak ketiga (cewek). usia 3th 8 bln
  • Desember 2018, lahir dede. Anak ketiga (cewek lagi). usia 1th 2 bln

See.. paling deket jarak tiap anak 2 tahun. Jadi mamam belum berhenti ya dari ngasi ASI selama 8 tahun, karena baru aja selesai ngasi ASI ke satu anak, keluar lagi anak berikutnya hihi. Sekarang mamam baru aja dicabut KB Spiral nya (IUD) beberapa bulan lalu. Mudah-mudahan gak tembus dulu huhu.. Asli karena yang cape bukan mamam juga. Tapi papap lah so pasti hiyaa.. ikut tanggung jawab juga ya. Tapi kalau dikasih amanah lagi insya alloh gak nolak koq!

Kalau tidak sabar, ngebesarin anak banyak itu bikin stress lho. Apalagi mamam bukan IRT biasa, alias masih harus membagi waktu untuk ngajar di sekolah. Jadi kudu bisa ngatur waktu kita agar semua bisa berjalan sesuai harapan. Di rumah selama 6 hari, Senin sampai sabtu dari pukul 06.30 pagi hingga minimal pukul 14.00 siang kita dibantu pengasuh di rumah. Habis itu, kita bareng-bareng ngebesarin anak-anak. Terutama fokus banget sama si bungsu ya, karena masih kecil dan ketergantungan sama kitanya masih tinggi.

Oke jadi gimana cara membesarkan banyak tanpa stress? Sebenarnya papap sama mamam juga suka stress juga sih ya. Normal kan ya? Papap gak mau boong dan memboongi pembaca hehe. Apalagi mungkin ketika kita sedang sakit, sedang banyak pikiran juga, itu ngaruh lho sama sikap kita ke anak-anak. Lho.. jadi malah curhat ya?

Sebenarnya stress atau tidak stress itu kembali ke diri kita masing-masing sih. Ada lho di komplek papap, yang anaknya 9 hiaa.. kebayang kan ya tapi belum 11 sih belum banyak ya eh tapi 9 juga udah bisa bikin timnas lho (buat sepakbola 9 anak plus 2 ayah ibunya wkwk), minimal bisa buat futsal udah sama tim cadangannya xixi.

Papap sih berharap anak-anak papap pada nurut, idep, pinter-pinter dan soleh. Jadi walaupun anak papap banyak tapi bisa bantu papap untuk tidak stress haha. Simpel sih sebenarnya, stress kan di pikiran kan ya, jadi upayakan agar kita selalu bisa jaga pikiran untuk tetap tenang dan dingin (masuk kulkas kali :D). Usahakan tidak ada masalah juga di rumah sama pasangan. Soalnya kasian kalau pas gak akur sama pasangan, suka ada imbas juga sama anak-anaknya. (pengalaman ni yee ^^)

Hmm.. simpel sih ya tapi memang suka susah dalam realitanya. Iya sih setuju.. papap juga masih suka susah kalau lagi bad mood bawaannya selalu sensitif. Liat anak-anak berantakin rumah, berisik, ada yang nangis.. hhhh.. berasa pengen teriak dan numpahin kekesalan sama anak-anak. Nanti yang ada anak-anak pada melongo, antara gak ngerti sama takut sama papapnya hihi. Kasian ya.. Tapi tenang gaess.. sebenarnya wajar lho asal jangan sampe pake kekerasan fisik aja. Walau kekerasan verbal juga ngaruh, tapi.. siapa orangnya yang bisa nahan emosi di satu momen tertentu yang saat itu kita udah kaya gak bisa nahan begitu banyak rasa dalam dada. Sesaak.. Tapi gak tahu kenapa bisa numpahinnya ke anak-anak yang masih polos itu. Akhirnya sih nyesel gitu kan gaess.. nah kalau masih ada rasa nyesel itu bagus berarti anda bukan psikopat xixi.

Terlepas dari kekurangan itu. Papap mulai gak ngebiasain untuk stress di depan anak-anak. Intinya kita harus mulai pandai menjaga emosi kita ketika di rumah. Ada masalah di luar rumah, taro dulu deh jangan dibawa masuk. Kasian kan istri sama anak-anak. Mereka tak selayaknya menerima sikap kita yang tidak baik. Gak secara langsung ngasih contoh juga sih ke mereka. Kalau kita orangnya emosian, gampang tersinggung, mudah meledak-ledak pasti deh anak akan juga mencontoh sikap kita. Jadi usahakan tetap santuy.. dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dunia anak-anak sejatinya dunia yang sederhana lho. Asal jangan terpapar sama sinetron alay aja ya hahaha. Usahakan kita bisa masuk ke dalam dunianya dan ikuti alurnya. Kalau kita bisa menyatu dengan dunianya, insya allah banyaknya anak tidak akan menjadi masalah karena anak-anak akan ada dalam genggaman kita. Kita bukan mengaturnya seperti robot, tapi kita seolah-olah punya tali kekang yang bisa kita tarik ulur hmm.. amazing sangat dah hehe.

Oke gaess.. itu aja sih sebenarnya. Gak terlalu rumit kan? Papap khawatir disangka sombong kalau harus banyak-banyak ngasih nasihat (yang ada curhat, bukan nasihat :P). Intinya anak sedikit atau banyak itu amanah dari Alloh. Kita tidak usah bangga dengan banyaknya anak. Banyak anak tapi tidak berkualitas juga sama aja boong dan nambah beban kita kan ya? Jadi bagi anda yang baru punya anak 1, atau bahkan belum punya anak. Tetap sabar aja gaess.. Alloh gak akan dzolim sama hamba-Nya. Selalu ada hikmah di setiap kondisi kita. Selamat berjuang untuk Anda para suami dan Ayah. See you di postingan lainnya.

credit image: klikdokter

Cara Memanfaatkan Waktu Anak Pada Saat Liburan

Aiih udah tahun 2020 aja ya hehe, gak berasa blog papapz.com udah mau 7 tahun. Sebenarnya udah lelah banget nulis. Aku sering berpikir menulis itu membutuhkan waktu. Harus mikirin idenya, belum merangkai katanya, belum ngeditnya haha padahal dulu cita-citanya pengen jadi penulis. Ketika usia bertambah memang cita-cita sesesorang seringkali berubah.

Orang-orang banyak banget menuliskan rencana atau progres apa yang akan di lakukan di tahun 2020 ini. Tapi aku sebagai Ayah 4 anak, masih sibuk memikirkan bagaimana mengelola waktu anak-anak seefektif mungkin. Rempong banget deh punya anak banyak, apalagi jika hari libur. Misalkan di hari Sabtu dan Ahad. Atau seperti sekarang di liburan anak sekolah.

3 dari 4 anakku sekarang sudah sekolah. Sulung kelas 2 SD Fullday, anak kedua di TK Fullday, Anak ketiga Playgroup Halfday. Ketika Sabtu mereka libur. Sementara Aku dan istriku tidak libur. Jadinya masih suka pusing mengatur waktu anak-anak di saat mereka liburan.

Kenapa yah anak-anakku itu tidak seperti anak-anak yang lain yang suka ngebolang atau explore berbagai hal di luar rumah. Mereka asiknya di dalam rumah apalagi kalau udah main hape android. Pusing sendiri deh hehe

Memang sih pada akhirnya aku introspeksi diri dengan keadaan anak-anakku. Mungkin aku dan istriku terlalu sibuk, kadang gak pas juga sih anak-anak dan istri liburan, tapi akunya enggak. Jadinya gak jelas gitu kan ya hehe.. Yang ada anak-anakku akhirnya ikut ke kantor. Waduh bikin rusuh akhirnya..

Akunya jadi curhat ya haha.. Tapi pada dasarnya membuat waktu anak-anak bermanfaat itu mudah banget asalkan kita sebagai orangtua konsisten dan mengarahkan sebaik mungkin dengan menemani anak-anak bermain dan mengisi waktu luang atau liburnya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Enaknya sih kalau anak libur, orang tua juga ikut liburan dong ya! Biar sama-sama happy tapi kalau misal anak-anak hanya bisa bersama ibu di rumah atau pengasuh. Pastikan partner kita memiliki visi dan misi yang sama dalam membuat waktu anak-anak menjadi lebih bermanfaat.

Harusnya sebelum waktu liburan tiba, orangtua dan anak-anak membuat sebuah planning atau rencana kegiatan full selama liburan agar anak-anak juga faham dengan apa yang harus mereka lakukan ketika liburan. Walaupun misal ayah dan ibu mereka tetap bekerja atau berkatifitas rutin, tapi selama liburan anak-anak tidak akan bingung mau ngapain.

Berikut ini beberapa contoh kegiatan yang bisa anak lakukan selama liburan:

  1. Rekreasi. Liburan memang identik dengan rekreasi. Rekreasi bisa kemana saja. Ke gunung, pantai, pedesaan, kolam renang dll. Kalau berencana rekreasi di dalam kota atau dalam jarak dekat maka bisa dijadwalkan akan pergi kemana saja selama waktu liburan berlangsung. Tapi kalau mau rekreasi ke luar kota atau luar negara tentunya harus mempersiapkan segala sesuatunya karena tidak bisa hanya dalam sehari.
  2. Berkunjung ke rumah nenek/om/tante/pakde/bude. Selama liburan kita bisa jadwalkan pula anak-anak untuk mengunjungi rumah kakek nenek atau sodara-sodara dari ayah dan ibu. Biasanya kan rumah kakek nenek itu di pedesaan ya, jadi bisa belajar dengan suasana yang baru.
  3. Camping/berkemah. Anak-anak juga bisa berlatih disiplin dan mandiri dengan mengikuti kegiatan camping/berkemah. Baik itu secara mandiri atau mengikuti program berkemah yang diadakan dengan paket berbayar.
  4. Mengikuti program mondok/pesantren selama liburan. Ada juga pesantren atau sekolah Islam yang menyelenggarakan pesantren selama liburan. Biasanya ada yang sepekan, sepuluh hari atau dua pekan. Nanti disana akan diarahkan dengan berbagai macam kegiatan Islami.
  5. Mengikuti kursus. Ada juga kursus yang diselenggarakan selama liburan sekolah. Misalkan kursus memasak, bahasa arab, bahasa inggris dll.
  6. Full kegiatan di rumah. Pilihan terakhir yang bisa diambil jika tidak ada punya rencana kegiatan khusus atau ke luar kota. Maka Anda bisa merencanakan berbagai macam kegiatan untuk bisa dilakukan di dalam atau di sekitar rumah. Misal membuat prakarya, berkebun, dll yang intinya anak ditemani bermain dan dalam segala aktivitasnya.

Demikianlah beberapa kegiatan yang bisa dilakukan selama anak liburan sekolah. Walau waktu liburan sudah berakhir saat ini, mudah-mudahan bisa menjadi referensi untuk saya dan anda.

Arti ulang tahun pasangan dan pernikahan bagiku

Entah karena memang dari jaman waktu kecil dulu tak pernah familiar dengan perayaan ulang tahun, hingga saat ini aku merasa biasa dengan tanggal lahir aku sendiri, istri, anak-anak bahkan tanggal pernikahan kita hampir 9 tahun yang lalu.

Mungkin bagi sebagian orang, tanggal lahir, tanggal jadian, tanggal pernikahan menjadi tanggal yang sakral karena dari tanggal tersebutlah banyak cerita baru yang terjadi. Tapi entah kenapa, aku merasa biasa saja. Bahkan malu ketika harus merayakannya.

Kalau untuk tanggal lahir, di tahun ini aku sudah berusia 33 tahun. Satu usia yang kadang aku berpikir, koq cepet banget sih waktu berlalu. Dan aku udah 33 tahun aja. Hellow, kemana aja dan ngapain aja ya gue selama ini?

33th

Dan malu, ketika aku harus merayakannya dan aku tiup lilin di kue ulang tahun dengan dikelilingi 4 anakku. Haha. Dan whatever aku juga gak pernah menganggap spesial hari ulang tahun istriku bahkan ke empat anakku.

Aku bahkan hanya nyeletuk cuma ngasih tahu doang ke anak-anak, bahwa di hari ini tanggal sekian, kamu lahir beberapa tahun yang lalu. Lalu aku ceritakan masa kecilnya, dan aku do’akan agar mereka selamat dan bahagia.

Alih-alih potong kue atau tiup lilin, mungkin hanya sesekali aja kita makan di luar. Tapi gak mengkhususkan di tanggal tertentu juga, yang penting kebersamaan dan ada duitnya. Itu sih yang paling penting hehe.

Kadang juga, saking banyaknya anak (belum banyak banget sih baru 4) aku sering kebolak balik nginget tanggal lahir anak satu persatu. Ada yang udah 7 tahun lebih, ada yang 5 tahun lebih, 3 tahun lebih dan ada yang baru 8 bulanan.

So.. Bagaimana menurut kalian? Apakah mengingat dan merayakan ulang tahun itu penting untuk kalian. Sehingga kadang aku suka perhatikan ada anak yang sedih karena ulang tahunnya gak dirayakan atau diingat sama ortu, sodara atau teman-temannya. Atau ada istri yang juga jadi marah, ngambek karena suami ga inget hari lahir dan hari pernikahannya. Hehe.

Aku sih sebenarnya tidak mau menjudge. Yang dirayakan silakan, gak juga gak papa. Asal kita jangan lupa berdo’a dan bersyukur pada Allah yang telah memberikan nikmat usia pada kita. Kalau kita ngerayain dengan hura-hura apalagi dengan yang engga-engga ya itu juga tidak bijak ya. Sejatinya usia kita itu berkurang, bukan bertambah. Ya kan? Oke lah secara matematika mungkin jumlah usia kita nambah, aku tahun lalu 32 tahun sekarang jadi 33. Otomatis nambah dong.. tapi… apakah kita tahu batas usia kita sampai kapan? Nah ini sih yang harus jadi instrospeksi bagi kita. Jangan sampai ada istilah yang gak enak “tua-tua keladi” makin tua makin menjadi.. mungkin bijaknya kita mengikuti filsafah padi, makin berisi makin merunduk. Ya, dengan jumlah usia kita yang semakin bertambah, harusnya kita semakin dewasa dan semakin rendah hati dan berwibawa.

Nah, nah.. aku gak mau ceramah ah! malu.. hanya refleksi bagi diriku sendiri. Karena masih banyak hal yang belum aku lakukan untuk kebaikan diriku, keluargaku bahkan untuk kalian semua.

Aku juga berdo’a lho untuk kalian, semoga kalian semua sukses ya dunia akhirat! Aamiin ^_^

Tips membawa bayi dan balita bertemu keluarga besar saat lebaran

membawa bayi saat kumpul keluarga

Yes Alhamdulillah.. hari raya Idul Fitri beberapa hari lagi akan kita jelang. Dan momen tersebut menjadi acara kumpul wajib dengan keluarga besar. Disebut wajib karena terkadang kaya ritual atau tradisi dari tahun ke tahun sih. Biasanya setelah sholat ‘ied kita akan langsung meluncur ke rumah mertua habis itu ke rumah ortu. So pasti ke empat anakku akan dibawa semua. Termasuk si kecil yang saat ini sudah berusia 5 bulan. Meski si kecil rentan masalah, tentunya kita tidak bisa terus-menerus menghindar dari ‘kewajiban’ membawanya bersilaturahmi dan bersosialisasi—cepat atau lambat—dengan banyak orang. Berikut tiga tips aman membawa bayi dan balita berkunjung ke keluarga besar yang bisa Anda praktikkan agar kesehatannya tidak terganggu. Aku kutip dari laman web AyahBunda:

membawa bayi saat kumpul keluarga

#1 Membuat batasan
Sulit melarang saudara sendiri untuk memegang atau menggendong si kecil tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Oleh karena itu, Anda harus menjadi tameng bayi atau balita dari penyebaran kuman yang dibawa oleh anggota keluarga besar saat menyentuh atau memeluknya, sesuai artikel Whattoexpect.com. Jauhkan mereka dengan cara menggunakan gendongan bayi sehingga Bunda atau Ayah bisa mengawasi interaksi antara para tamu dengan si kecil. Jangan segan juga mengatakan si kecil sedang rewel sehingga tidak mau terpisah dari orangtuanya. Pokoknya kesehatan anak harus jadi prioritas!

#2 Hindarkan dari anak-anak
Tahu sendiri kalau anak kecil senang menonton bayi atau balita yang usianya lebih muda. Meskipun mereka menunjukkan perhatian luar biasa terhadap si kecil, sayangnya anak-anak merupakan pembawa kuman terbesar seperti disebutkan dalam Babycaremag.com. Anak-anak sering lupa mencuci tangan sehabis bermain di luar ruang dan cenderung sulit diingatkan soal kebersihan. Namun, Anda bisa mengajak mereka bermain cilukba bersama si kecil atau membantu mengambilkan perlengkapan si kecil saat berganti baju sehingga tidak ada kontak langsung dengan bayi Anda. Jauhi pula sepupu-sepupunya yang sedang pilek atau batuk agar tidak tertulari.

#3 Lanjutkan rutinitas
Bayi punya rutinitas sendiri yang tidak perlu diubah karena bertemu dengan keluarga besar. Jika sudah lapar atau mengantuk, Bunda sebaiknya cepat mengabulkan kebutuhan si kecil sebelum berubah menjadi bencana. Carilah tempat sepi agar si kecil bisa fokus makan atau tidur, misalnya, sesuai jadwal hariannya. Ketika anak tertidur, Anda pun boleh beristirahat sambil menemani si kecil agar kembali segar ketika bercengkerama lagi dengan keluarga besar.

Nah gimana gees.. cukup bermanfaat kan ya? terutama bagi teman-teman yang memiliki bayi dan balita. Memang sih kadang kalau habis acara kumpul-kumpul lebaran, anak-anak juga kena efeknya karena mungkin capek dan lain-lainnya ya! Tapi aku berharap semua baik-baik saja. Aamiin.

sumber: https://www.ayahbunda.co.id/keluarga-travelling/3-tip-membawa-bayi-dan-balita-bertemu-keluarga-besar

Ayah dan Menahan diri untuk tidak emosi saat berpuasa

ayah jangan marah

Aku nikah akhir tahun 2010, Anak pertamaku lahir Februari 2012.. Jadi ada rentang waktu sekitar 14 bulan statusku baru jadi suami.. setelah anak pertamaku lahir, aku nambah status jadi suami bagi istriku, dan ayah bagi anakku. Excited banget deh pokoknya pas punya anak pertama. Mungkin kaya anak kecil dapat mainan baru ya hehe. Tapi berselang setiap dua tahun, aku mempunyai anak lagi.. hingga sekarang di tahun 2019 anakku sudah 4. 😀

Lalu apa bedanya dan apa yang mau diceritakan? Kali ini aku akan cerita tentang menjalani puasa sebagai seorang Ayah. Anak pertamaku sekarang udah kelas 1 SD dan usianya sudah 7 tahun lebih. Seperti aku dulu yang sudah mulai diajari untuk melaksanakan ibadah, maka di usianya yang sudah 7 tahun itu, aku juga sudah mulai rutin mengajak anakku untuk sholat dan tentunya di bulan ramadhan ini aku ajak pula untuk berpuasa.

Sebelum masuk bulan Ramadhan, anakku sangat excited mendengar kata puasa, apalagi denger nanti bisa dapat hadiah. Tapi setelah masuk Ramadhan dan puasa dimulai, kayanya anakku semangatnya menurun apalagi dtambah anak-anakku bergantian sakit. Mulai dari yang bayi, sampai kakak-kakaknya. Otomatis bulan puasa kali aku gak karuan juga hehe qodarullah.

Membiasakan anak untuk ibadah itu memang gampang-gampang susah. Tapi alhamdulillahnya, terbantu juga dari motivasi di sekolah karena anak sulungku sekolah di SDIT yang penekanan terhadap pengamalan ajaran Islamnya lebih besar dibanding di sekolah negeri. Ya.. namanya anak-anak ya, apalagi adik-adiknya masih belum puasa.. jadi dia merasa gak ada temannya di rumah. Mungkin dia ngerasa iri.. dia lagi haus, eh adik-adiknya asik minum. Pas dia lapar, eh adiknya makan roti wkwk. Belum jajan nya masih jalan juga.. otomatis deh tambah gak karuan. Yang ada gontok-gontokkan sama si sulung, antara mempertahankan agar si sulung tetap konsisten atau malah akhirnya nyerah dan membiarkan si sulung buka puasa sebelum waktunya.

Memang sih ya, anak-anak yang belum baligh itu kan belum wajib puasa. Tapi tentunya pembiasaan ibadah sejak dini itu sangat bagus untuk dilakukan oleh setiap orang tua agar si anak tidak kaget ketika nanti dewasa diwajibkan kepadanya segala macam ibadah. Mulai dari sholat, puasa dan lain-lainnya. Lalu gimana nih gaees.. ketika dalam kondisi seperti ini? Apakah kita akan mengedepankan rasa kasian pada anak ketika anak-anak merengek haus dan lapar sebelum waktunya berbuka. Atau tetap konsisten mengajak mereka untuk menyelesaikan puasanya.

Bagi Ayah yang baru memiliki anak 1 atau 2 mungkin bisa ya. Tapi bagiku itu sungguh sangat berat. Karena konsentrasiku buyar, antara membimbing si sulung untuk konsisten puasa sama ngasuh adik-adiknya juga. Alhasil seringkali aku emosi tak karuan wkwk. Ah aku anggap saja ini merupakan bagian cerita dalam hidupku. Aku memang sedang belajar untuk sabar dan tidak emosian, terutama ketika berpuasa. Tapi terkadang ada aja yang bikin aku naik darah dan duaar.. omelanku keluar sambil tak pelototin anak-anakku yang gak nurut satu persatu. Haha.. lumrah gak sih semua itu terjadi? Kayanyanya aku gak bisa deh sesempurna di artikel-artikel tentang parenting itu. Aku juga tahu si tentang teori jangan marah pada anak, jangan melampiaskan kekesalan pada anak, jangan teriak pada anak ketika marah, jangan melakukan kekerasan verbal dan fisik pada anak. Tapii.. apakah semua orangtua bisa ya dalam situasi-situasi tertentu untuk memenej hati dan pikirannya agar seperti orang tua yang lembuuut..dan tidak ada nada tinggi ketika melihat anaknya rewel, tantrum, nangis, berantem, bikin ulah, dan sikap lainnya yang itu bikin tensi kita naik hehe.

ayah jangan marah

Aku sih terima aja kalau misalnya ada yang komen dan nyinyir. Koq bisa yaa teriak-teriak ke anak, atau ngomel-ngomel ke anak sampai suaranya keluar rumah itu kedengeran. Gak aku aja sih tapi kadang juga istriku xixi. Tapi sungguh, aku dan istriku tuh bukan tipe orangtua jahat yang kaya di berita-berita kriminal. Kita yaa.. kalau marah ke anak ya udah marah pas kesel aja. Kalau misal habis ngomel, ya udah kita baik lagi. Anak-anak habis itu angger minta apa-apa pasti sama kita lagi. Da kita ortunya ya? Masa kalau habis dimarahain terus anak kabur gitu atau nginep di rumah tetangga? haha.. korban nonton sinetron alay banget sih kaya gitu? Lagian.. tetangga juga pada ga mau pasti nampung anak-anakku yang kaya gitu xixi.

Nah di saat momen puasa ini, sebenarnya aku juga pengen nahan dan sabar untuk tidak emosi. Mudah-mudahan aku bisa jadi ayah yang soleh yaa.. yang kata-katanya selalu bijak, tutur katanya santun, tatapan matanya menyejukkan hati dan sangat sangat sabar serta penyayang, aamiin. ekspektasi nih.. mudah-mudahan anak-anakku juga mendukung aku untuk seperti itu. Jadi awas aja kalau kalian macam-macam hahaha.

 sumber gambar: https://asset.kompas.com/crop/0x560:1000×1226/750×500/data/photo/2017/10/04/2141207776.jpg

Ayah, Diantara Sikap Tegas dan Keras

ayah tegas keras

Dulu, orang yang paling aku segani adalah Bapakku. Waktu kecil aku memang seringkali ditinggal Bapa merantau. Sampai aku usia kelas 3 SD sampai Bapak aku sakit parah dan akhirnya tidak pergi merantau lagi. Bapak dulu termasuk orang yang keras. Aku tidak bilang Bapakku kasar. Kalau kasar dan keras beda ya. Kalau kasar, pasti condong ke perkataan, sikap dan selalu main fisik (memukul, menendang, dll). Tapi aku pernah sih dipukul sama Bapak karena aku gak nurut dan melawan.

Bayangan itu selalu terlintas di kepalaku. Sampai aku membuka mataku, ternyata saat ini aku sudah memiliki 4 anak. Jujur ini diluar ekspektasiku. Memiliki banyak anak  dengan usia berdekatan.

Kini seiring dengan bertambahnya usia Bapak, Karakter bapakku sudah semakin lemah lembut walau seringkali ada perkataan-perkataan yang menyinggung. Tapi Aku gak mau  jadi anak durhaka. Aku gak mau melawan orang tua dan mencari masalah dengan keluargaku sendiri.

Berkaca pada Bapakku. Kini aku ingin menerapkan siklus yang berbeda kepada anak-anakku. Dulu aku tidak dekat dengan anak-anakku. Sekarang aku berusaha dekat dengan semua anakku. Aku tidak ingin pencitraan bahwa aku ini good dady, dengan terus menulis kedekatan dengan anakku atau share poto-poto yang memperlihatkan gimana aku dekat dengan anak-anak. Duh kayanya bukan tipeku seperti itu.. Cukuplah hanya aku dan anak-anakku yang tahu gimana aku yang sebenarnya.

Memang kadang ketika aku bad mood, lelah dan ngedrop. Anak-anak suka jadi sasaran.. tapi aku gak segitunya ke anak-anak. Mungkin ada yang nilai aku ayah yang jahat, kasar, dan malah tidak sayang. Kenyataannya, aku sangat sayang ke mereka.. semuanya, dan tidak aku beda-bedakan. Memang kadang karakter anak yang satu dengan anak yang lain beda-beda. Ada anak yang masih manja walau udah gede, ada anak yang mandiri, ada anak yang idep kalau dibawa kemana-mana, ada juga yang gak betahan. Dan ini semua kekurangan dari anak-anak yang harus aku fahami.

ayah tegas keras

Kayanya manusiawi banget deh kalau pas lagi lelah.. orang tua suka ada yang lost controll.. Tapi kembali lagi ke diri kita, karena ada yang kebablasan sampai maaf ada yang sampai menghilangkan nyawa anaknya sendiri tapi ada juga yang ketika kesel, anaknya ditinggal nangis sendiri, ada yang mungkin juga teriak-teriak geram, atau ada yang sampai main fisik misal memukul, tapi habis itu nyesel banget ikutan nangis juga saking desperatenya.

Nah.. Kita termasuk yang mana? jujur yaa.. kalau saya memang suka kelepasan juga misal dengan memukul anak. Dan saya tahu itu salah. Dan saya gak mau mencitrakan diri saya sebagai ayah yang bersih dari tindakan-tindakan yang gak baik. Kadang setelah itu saya nyesal dan memenej diri saya kembali. Dan seiring bertambahnya usia saya juga bisa seperti bapak yang akan berubah lembut dan menjadi pribadi yang baik.

Kadang ketegasan itu penting. Tapi tegas bukan berarti kasar. Misal anak yang gak mau sholat di usia 10 tahun. Dalam Islam boleh lho untuk dipukul. Nah tapi bagaimana cara memukulnya, pake apa, dimana, kapan, sekeras apa..itu diatur gak maen pukul pake emosi semata lalu kita puas melihat anak kita kesakitan. Eh psikopat banget sih ya guys!

Kadang kita suka kesel gak sama orang tua yang biarin anaknya nangis di toko mainan? Anaknya kejer, tantrum, teriak-teriak pengen beli mainan yang mahal misalkan. Kalau kita di posisi sebagai orang tuanya, apa sikap yang terbaik? Mungkin jika Anda punya uangnya dan tidak ingin repot sih langsung aja dibelikan mainannya biar anak diam. Tapi apakah itu akan menjamin di lain hari si anak gak bersikap begitu lagi ketika ada sesuatu yang diinginkannya lalu kita gak memenuhinya?

Ya, kadang kita suka menjudge orang tua lain tidak sayang sama anaknya hanya karena gara-gara mainan. Tapi apakah kita tahu pendidikan apa yang sedang dijalankan oleh orang tua lain kepada anaknya? Bisa saja, si anak memang anak yang manja dan sudah banyak membeli mainan jadi si ortu ingin mengedukasi anaknya untuk tidak terus membeli mainan. Lalu ortu tersebut membiarkan si anak menangis atau segera mengangkatnya ke tempat lain.

Kadang ketika aku menulis apa adanya. Orang lain seringkali mendapati aku seperti orang dengan karakter yang berbeda. Boleh aja sih kan blog ini untuk umum dan semua boleh komen hehe. Dan tulisan ini bukan sebagai klarifikasi dan pembelaan. Kalau mau tahu gimana sifat orang tua, baik ataukah tidak.. bisa koq kita tanya anak-anak kita.. anak-anak kita itu polos dan tidak bisa dibohongi. Kalau misal ayahnya baik, ia pasti akan mengakuinya. Kaya anak-anakku mereka suka bilang sayang papap.. tapi mereka juga tahu kalau aku lagi marah. Jadi aku balance aja gak menutupi kekuranganku dalam tulisan-tulisanku sekarang. Jadi mohon maaf ya kepada pembaca jika ada yang tidak nyaman dengan tulisanku ^^